Kementan Akui Minimnya Produksi, Sebabkan Lonjakan Harga Cabai

    20
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui kenaikan harga cabai merah disebabkan oleh kurangnya produksi di tingkat petani. Minimnya produksi membuat harga cabai di tingkat petani pun menyentuh angka Rp60 ribu per kilogram (kg).

    Dirjen Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto di Jakarta, Kamis (1/8l mengatakannya,  minimnya produksi disebabkan oleh petani cabai yang tidak merawat tanaman dan memanen cabai. "Ya ini memang karena pengaruh yang jelas karena kemarin kan cabai sempat harganya jatuh. Nah karena harga jatuh, tanaman nggak dirawat oleh petani,” ujar Prihasto.

    Ia menceritakan, harga cabai merah di tingkat petani 2-3 bulan yang lalu sempat jatuh hingga berada di level Rp5 ribu/kg. Menurutnya, jatuhnya harga membuat petani malas memanen cabai merah karena biaya panen lebih mahal dari harga jual, di mana ongkos panen sekitar Rp6 ribu/kg.

    Hal itulah yang membuat petani akhirnya tidak merawat dan tidak memanen tanaman cabainya sehingga membuat produksi cabai berkurang. "Tanaman (cabai) mulai berkurang, kebutuhan tetap, barangnya tidak ada akhirnya menyebabkan bahan cabe naik,” jelas Prihasto.

    Harga cabai senilai Rp60 ribu/kg di tingkat petani, menurur Prihasto, memang cukup mahal, lantaran harga normal cabai merah di tingkat petani berkisar antara Rp25-30 ribu/kg. Harga itu dianggap sebagai level paling rasional di mana tetap menguntungkan petani, tapi juga tidak terlalu mahal di tingkat masyarakat.

    Namun ia menyebutkan, harga cabai merah sebesar RP60 ribu/kg di petani yang terjadi saat ini masih masuk kategori relatif terkendali. Mengingat harga cabai merah di tingkat petani pada tahun 2017 pernah melonjak lebih tinggi hingga ke level Rp90-100 ribu/kg.

    Prihasto pun mengatakan, berdasarkan laporan dari dinas pertanian sentra cabai, petani sudah mulai menanam dan mengurus tanaman cabainya lagi. Pihaknya berani menargetkan harga cabai di tingkat petani akan kembali ke angka aman sekitar Rp30 ribu/kg pada akhir Agustus 2019.

    Sementara, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), cabai merah telah memberi andil inflasi sebesar 0,20% dalam catatan inflasi periode Juli 2019. Sumbangan inflasi tersebut menjadikan cabai merah sebagai komoditas yang mendominasi inflasi sub-kelompok bumbu-bumbuan yang menyumbang inflasi 7,50% dari inflasi kelompok bahan makanan sebesar 0,80%.

    Sementara dalam total inflasi Juli 2019, kelompok bahan makanan memberi andil inflasi sebesar0,17% dari total inflasi bulan Juli yang sebesar 0,31%. "Jadi inflasi bulan ini sangat dipengaruhi kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto.

    Sebelumnya, harga cabai merah doi pasar tradisional sempat menyentuh angka Rp60 ribu per kilogram untuk rata-rata nasional. Sementara di ibu kota Jakarta, harga cabai merah di pasar tradisonal masih berada di kisaran Rp70 ribu/kg hingga akhir bulan Juli 2019. Namun harga cabai merah di Jakarta juga pernah menyentuh angka Rp80 ribu/kg pada pertengahan Juli lalu.

    Butuh Inovasi

    Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Eko Listiyanto menyebutkan cabai masuk dalam kategori bumbu-bumbuan yang kerap menyumbang inflasi cukup besar bersama dengan komoditas bawang putih dan bawang merah. Minimnya pasokan cabai kerap diikuti lonjakan harga komoditas tersebut. "Selalu kenaikan harga cabai itu persentasenya tinggi bahkan bisa dua kali lipat," katanya.

    Eko menekankan cabai menjadi komoditas konsumsi pangan yang selalu mengalami kenaikan harga di musim kemarau.  Kali ini, di bulan Juli kondisi kemarau juga turut membuat persediaan cabai langka sehingga harganya melonjak. Harusnya ada cara dilakukan untuk menjaga pasokannya.

    Sayangnya, cabai adalah komoditas yang penanamannya membutuhkan perawatan khusus. Pasalnya, ketika kemarau cabai seringkali hanya tumbuh sedikit. Sebaliknya, musim hujan juga kurang bersahabat dengan tanaman cabai karena bisa membuat bunga rontok.

    Kondisi ini, tambah Eko, tidak dibarengi dengan pasokan yang berkelanjutan. Karenanya, dia menyarakan harus ada terobosan dalam mendistribusikan komoditas cabai. Terutama ketika panen cabai berlimpah sehingga harganya anjlok.

    Menurutnya, manajemen distribusi tak hanya soal transportasi atau angkutan komoditas pedas ini. Manajemen ini juga harus terkait dengan teknologi penyimpanan cabai saat panen berlimpah. Eko mengaku sering mendengar teknologi penyimpanan cabai di gudang agar kondisinya tetap awet. (son)