Ormas Islam Harus Aktif Lakukan Kontra Radikalisme

    9
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Organisasi Islam dan kalangan kampus harus berperan aktif melakukan kontra radikalisme, diantaranya membangun kontra narasi radikalisme untuk menghilangkan paham terhadap seseorang yang terpapar paham radikalisme. "Harus ada upaya dari ormas moderat seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk mulai membuat kontra-narasi radikalisme," kata pengamat komunikasi dan Direktur Pusat Studi Sosial dan Pembangunan Berkelanjutan (CS3D-Paramitra) Irfan Fauzi Arief di Jakarta, Selasa (13/8).

    Menurut Irfan, hal tersebut harus menjadi lahan dakwah Muhammadiyah, NU dan Syarikat Islam serta Ormas Islam lainnya agar paham radikal dalam konotasi negatif  tidak menyebar ke masyarakat. Selain itu, organisasi-organisasi mahasiswa juga harus mulai bersuara terkait dengan hal itu, karena radikalisasi saat ini cukup banyak juga melalui kampus-kampus.

    Organisasi-organisasi mahasiswa Islam seperti HMI, IMM, PMII, KAMMI dimana organisasi mahasiswa saat ini mengalami degradasi pemikiran, dari idiologis kepada pragmatis, sehingga kini jarang terdengar bersuara atas kepentingan rakyat, kalaupun berdemo biasanya bila menyangkut urusan pribadinya. "Harusnya merekalah yang juga berperan aktif untuk meng-counter penyebaran paham-paham radikal di kampus," kata Irfan.

    Untuk itu, jelas Irfan, kampus sebagai tempat kaum intelektual dan calon intelektual kampus harus dapat mencegah masuknya paham radikalisme dan terorisme. Menurutnya, ada beberapa cara agar lingkungan kampus terbebas dari paham radikalisme.

    Pertama tentunya yakni perkuliahan, dimana dalam perkuliahan yang sesuai kalender akademik atau program studi yang telah ditentukan dan menjadi pilihan mahasiswa itu sendiri dan juga pendidikan yang di luar program studi seperti kegiatan kemahasiswaan.

    Kedua, memperkuat mata kuliah tertentu seperti penguatan tafsir, penguatan ideologi negara itu sendiri dan mata kuliah tertentu lainnya. Nantinya, di mata kuliah itu diantisipasi dalam pokok-pokok bahasannya. Selain itu, mahasiswa yang berkuliah di kampus tidak hanya diberikan teori, namun juga dibekali praktek di lapangan.

    Ketiga, mencegah masuknya tenaga pendidik atau dosen berlatar belakang pendidikan atau berpandangan ektrem atau berideologi radikal.

    Selain itu, kata Irfan, yang bisa dilakukan adalah menjadikan moderasi Islam sebagai gerakan segenap civitas akademika di lingkungan kampus. Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mempunyai modal cukup untuk ini. Sebab diskursus pemikiran keislaman berkembang baik sehingga tinggal didorong agar moderasi bisa menjadi gerakan bersama.

    Selanjutnya adalah memperkuat wawasan kebangsaan mahasiswa dan civitas akademika kampus. Selain sesi-sesi perkuliahan, kata Irfan, upaya ini bisa dikemas dalam ragam aktivitas positif yang dapat mencegah secara dini berkembangnya paham ekstrem yang tidak sesuai dengan nilai moderasi Islam serta Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

    Sejatinya, pihak kampus juga harus ikut serta mengawasi segala macam bentuk kegiatan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di dalam kampus itu sendiri. "Jangan sampai UKM yang ada di lingkungan kampus tersusupi paham radikal," pesan Irfan. (son)