Sematak Kemerdekaan, Otban Padang Kenakan Pakaian

    7
    PADANG (Bisnisjakarta)-
    Ada yang berbeda di Bandara Internasional Minangkabau Padang Sabtu (17/8) lalu. Terlihat puluhan pria dan wanita berpakaian adat, tidak hanya dari Sumatera Barat, juga dari berbagai wilayah Indonesia yang berbaur dengan para penumpang dan pengunjung bandara. Tidak hanya berbaur, mereka ternyata juga melakukan aksi simpatik dan berbincang santai terkait keselamatan dan keamanan penerbangan.

    Mereka yang mengenakan pakaian adat tersebut adalah para karyawan dari Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VI Padang. Dengan dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VI Padang, Agoes Soebagio, mereka berbaur membagikan kembang serta coklat dan berinteraksi berbincang santai mengenai pentingnya menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan dengan para penumpang dan pengunjung bandara.

    Dalam dunia penerbangan, keselamatan dan keamanan adalah dua hal utama yang tidak boleh ditinggalkan. Menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan adalah tugas bersama regulator, operator dan masyarakat dan harus dilaksanakan secara terus-menerus. "Jika untuk negara ini ada jargon NKRI harga mati, maka di dunia penerbangan juga ada jargon keselamatan dan keamanan harga mati. Karena keselamatan dan keamanan penerbangan itu taruhannya nyawa. Dengan demikian harus dijaga dan ditingkatkan secara kontinyu oleh kita bersama," ujar Dirjen Perhubungan Udara Polana B  Pramesti.

    Menurut Polana, sosialisasi keselamatan dan keamanan penerbangan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Namun agar bisa menarik perhatian masyarakat sehingga bisa tepat sasaran,  sosialisasi harus dilakukan dengan kreatif seperti dengan aksi-aksi simpatik. "Melakukan sosialisasi dengan aksi simpatik mengenakan pakaian adat dan membagikan kembang serta coklat pada saat menjelang peringatan HUT RI adalah sesuatu yang kreatif dan menarik. Saya salut dengan itu," ujarnya lagi.

    Sementara itu, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VI Padang, Agoes Soebagio menyatakan bahwa pakaian adat sengaja dipilih sebagai sarana untuk memperlancar sosialisasi untuk mengingatkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural terdiri dari berbagai macam suku bangsa.

    Apalagi sebagai bandara internasional, penumpang di Bandara BIM tidak hanya penumpang domestik namun juga dari mancanegara. Pakaian adat ini sekaligus juga bisa mengenalkan Indonesia pada penumpang dari luar negeri tersebut. "Pakaian adat ini tentu menarik, sehingga masyarakat penumpang dan pengunjung bandara jadi merasa dekat dan akrab dengan kami. Dan kami bisa melakukan sosialisasi dengan berbincang dan berinteraksi lebih rileks serta tepat sasaran. Selain itu juga mengingatkan pada masyarakat bahwa kita ini bangsa yang plural namun bersatu atau Bhineka Tunggal Ika," ujar Agoes.

    Sedangkan kembang dan coklat dipilih karena melambangkan cinta dan kehangatan, di mana dalam menjalankan keselamatan dan keamanan penerbangan, harus dilandasi cinta dan kehangatan dalam kebersamaan antara regulator, operator dan masyarakat. (son)