YAPI Gelar Konser Amal, Bantu Mahasiswa IPB Yang Tak Mampu

    22
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Yayasan Alumni Peduli IPB (YAPI) kembali akan menggelar malam penggalangan dana beasiswa untuk para mahasiswa IPB yang termasuk dalam kategori tidak mampu. Malam penggalangan dana itu akan dikemas dalam ajang Charity Concert Voices That Care 2 yang akan berlangsung di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (11/9) mendatang.

    Ketua YAPI Heri Sunaryadi di Jakarta, Rabu (21/8) menuturkan, malam penggalangan dana ditargetkan untuk meraih lebih banyak donatur sehingga lebih banyak dana yang dapat dialokasikan untuk beasiswa. "IPB yang sering disebut sebagai kampus rakyat, setiap tahunnya kurang lebih menerima 4.000 mahasiswa. Sekitar 53 persen berasal dari keluarga yang tidak mampu," kata Heri.

    Beasiswa Bidik Misi dapat membiayai lebih kurang 20 persen mahasiswa yang masuk kategori tidak mampu, sisanya dibantu oleh berbagai pihak yang peduli dalam bidang pendidikan. "YAPI hadir di sini untuk membantu mahasiswa yang tidak mampu agar terus bisa melanjutkan pendidikan guna mewujudkan cita-cita dan mimpi-mimpi mereka," ujar Heri.

    YAPI sendiri sejauh ini, kata Heri, sudah membantu 500-an mahasiswa IPB, yang tidak hanya diberikan Uang Kuliah Tunggal (UKT), tapi juga living cost serta BPJS Kesehatan.

    Let’s Bring Back The 80’s

    Charity Concert Voices That Care 2 bertemakan Let’s Bring Back The 80’s ini terasa lebih semarak dengan hadirnya sejumlah musisi dan penyanyi papan atas Indonesia.

    Ketua penyelenggara Susy L. Balisani mengatakan, malam penggalangan dana beasiswa nantinya bakal menampilkan Twilite Orchestra yang dipimpin Addie MS, penyanyi Vina Panduwinata, Yana Julio, Ghaniyya Ghazi, PSM Agria Swara IPB, dan Dini Fitrianti.

    Menarik bahwa musisi seperti Addie MS dan Vina Panduwinata bersedia turut serta dalam konser amal ini. Tapi tujuan mulia pemberian beasiswa rupanya sejalan dengan pemikiran mereka. "Pendidikan yang tinggi membuat setiap insan dapat memiliki kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Tapi banyak mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi sehingga bisa berhenti di tengah jalan. Program beasiswa ini memberikan dukungan luar biasa supaya mereka dapat menyelesaikan studinya," kata Addie. 

    Vina menambahkan, YAPI memiliki konsep acara penggalangan dana yang spesial, yang tidak sama dengan yang lain. “Selain menggalang dana, tapi juga konsep acaranya super keren sampai menghadirkan orkestra sekelas Addie MS. Donaturnya pun jadi senang berkontribusi dalam pemberian beasiswa," kata si Burung Camar ini.

    Kehidupan Berubah

    Memang, beasiswa dapat membuat kehidupan seseorang berubah 180 derajat. Hal ini diungkapkan oleh Taryat Ali Nursidik, salah satu penerima beasiswa dari Subang. ”Dulu ketika kuliah saya dibekali orang tua Rp 25 ribu dalam sebulan.  Untuk transportasi dari rumah saya ke IPB Bogor, habis 10 ribu rupiah. Sisanya untuk makan dalam sebulan. Kalau sekali makan Rp 3000, berarti saya hanya bisa makan lima kali dalam sebulan," kata Nursidik.

    Hampir selalu sakit setiap minggu karena pola makannya yang sangat irit, membuat kesempatan menerima beasiswa dari para alumni yang dermawan membuat Nursidik mahasiswa IPB tahun 1986-1990 – berterima kasih.

    Rasa terima kasih ini diimplementasikan Nursisik dengan membangun koperasi susu di kampungnya di Subang. Berbekal pendidikan yang diperolehnya dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB, ia sukses mengembangkan koperasi para peternak susu itu hingga memiliki aset lebih dari Rp 7 miliar, termasuk sekitar 400-an sapi.

    Nursidik, dokter hewan yang sederhana, memenuhi apa yang diinginkan para dermawan di mana pun. Ia membantu dirinya sendiri, membantu lingkungannya, dan menebarkan virus kebaikan ke mana-mana.
      
    Kisah-kisah sukses seperti cerita Nursidik ini yang menurut Heri terus melecut semangat ia dan alumni IPB lainnya yang tergabung di YAPI untuk konsisten membantu pendidikan mahasiswa.

    Tanpa Memandang Prestasi

    Ia menuturkan, YAPI mempunyai visi kemanusiaan yang berkeadilan dalam pendidikan, sehingga program beasiswa YAPI diprioritaskan untuk mahasiswa IPB kategori tak mampu tanpa memandang prestasi akademik sebelumnya. "YAPI yakin semua mahasiswa yang diterima di IPB merupakan yang terpilih dan harus dibantu agar fokus saat studi tanpa perlu memikirkan kebutuhan kuliah dan hidupnya. Setelah itu kami mendorong agar prestasinya terus meningkat," tutur Heri.

    Pada gilirannya, kata Heri, mahasiswa yang telah menyelesaikan kuliah dapat membantu keluarga dan lingkungannya, meningkatkan taraf hidup sosial ekonominya, sekaligus juga membantu program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

    Heri berharap, YAPI dapat berkelanjutan menyalurkan beasiswa kepada 1000 mahasiswa setiap tahunnya. Oleh sebab itu, YAPI sangat memerlukan bantuan dan kerja sama para donatur dan alumni IPB untuk mewujudkannya. (son)