Pengadaan Pin Akhir Masa Jabatan, Jangan Dipaksakan

    9
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Memdagri Tjahjo Kumolo menyarankan pengadaan pin emas untuk kenang-kenangan anggota dewan yang purna tugas menjalankan tugas masa bhakti kedewanan sebaiknya tidak dipaksakan.

    Pengadaan pin emas harus disesuaikan dengan kemampuan sisi keuangan di masing-masing daerah. "Nggak ada (aturan), masing-masing masing-masing daerah saja mampunya gimana. Kalau dianggap dari sisi keuangan belum bisa dianggarkan, saya rasa nggak wajiblah," tegas Tjahjo Kumolo di Jakarta, Kamis (22/8).

    Soal bahan baku berupa emas di dalam pin, Tjahjo mengatakan ituoun tidak harus menjadi keharusan. Bahan baku pin bisa berasal dari material apa saja, tidak harus dari emas.  "Kalau soal pin masing-masing disesuaikan daerah, tidak bisa dipaksakan. Pin untuk kenang-kenangan, apa perlu dari emas? Nggak wajiblah," tegas Tjahjo.

    Pimpinan DPR RI juga tidak mempersoalkan pengadaan pin untuk pejabat negara baik di lembaga eksekutif maupun dimlembaga legislatif yang mengakhiri periode maaa bhaktinya.

    Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon meyakini anggaran untuk pin anggota DPR tidak akan besar sebab emas yang digunakan hanya untuk melapisi pin, sehingga pin yang dibuat bukan seluruhnya berbahan baku emas. "Ya paling berapa sih. Emasnya juga kan tidak keseluruhan pin. Kalau saya pakai pin KW 2 atau 3, beli Rp 200 ribu, karena sering hilang," kata Fadli Zon.

    Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini juatru meminta publik menyoal  biaya rencana pemindahan Ibukota ya g besarnya mencapai ratusan triliun. Menuritnya sikap kritis atas renxana pemerintah itu penting agar jangan sampai anggaran besar biaya pemindahan Ibukota tidak memberi dampak positif tetapi justru akan kontraproduktif. "Menurut saya yang kecil-kecil begitu nggak usah  dibicarakan lah. Kalau mau hemat anggaran, bicarakanlah itu pindah Ibukota Rp 446 triliun. Itu dananya dari mana? Itu baru signifikan. Ngapain ngomongin yang kecil-kecil begitu," kata Fadli.

    Wakil Ketua DPR bidang Polhukkam ini menilai wajar pengadaan pin berlapis emas apabila keuangan daerah memang mencukupi. "Ya itu mungkin saja  sebagai sebuah kenangan semacam itu. Bisa penting bisa enggak, tergantung lah," ucapnya.

    Fadli mengatakan ia justru kebih seribg menggunakan pin yang bukan dari emas atau berlapis emas karena benda kecil yang kerap disematkan di baju itu seringkali hilang. (har)