KA Logistik Diharapkan Turunkan Biaya Logistik

    12
    SURABAYA (Bisnisjakarta)-
    Tingginya biaya logistik di Indonesia, sekitar 24 persen dari Produk Domestik Bruto, atau sekitar Rp 1.820 triliun, membuat produk Indonesia kurang kompetitif. Dari jumlah itu, sektor transportasi mengambil porsi yang terbesar, yakni 60 persen dari biaya logistik. Oleh karena itu, salah satu upaya yang harus dilakukan adalah mengoptimalkan pemanfaatan KA logistik dalam transportasi barang. Demikian benang merah Lokakarya Nasional Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (Maska) yang diselenggarakan di Surabaya, Selasa (2/9).

    Ketua Umum Maska Hemanto Dwiatmoko mengatakan, seharusnya peran KA logistik bisa lebih besar dalam angkutan logistik karena sudah banyak infrastruktur perkeretaapian dibangun. "Di jalur Pantura Jawa, jalur kereta api sudah dibangun ganda, sehingga kapasitas perjalanan kereta bisa ditambah," kata Hermanto.

    Namun pembangunan infrastruktur itu tidak cukup karena masih belum terhubung dengan pelabuhan dan sentra-sentra produksi. Kalau pun sudah terhuhung, sarana bongkar muat barang untuk kereta api harus juga dilengkapi.

    Sekretaris Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulmafendi mengatakan, peran kereta api dalam angkutan barang masih sangat kecil, yakni hanya 1 persen dari total pengangkutan. Sebesar 90 persen pengangkutan, masih dilakukan angkutan truk. Namun, pertumbuhan volume barang yang diangkut tiap tahun terus meningkat. Jika tahun 2016 volume barang hanya 32,49 juta ton, tahun 2017 meningkat menjadi 40 juta ton, dan tahun 2018 naik lagi menjadi 45,2 juta ton. "Ada banyak kelebihan yang didapat dengan pengangkutan kereta api. Misalnya kepastian waktu, kapasitas angkut yang besar, efisien, emisi gas buang yang rendah, dan keamanan,". Namun pengangkutan dengan kereta barang juga mempunyai kekurangan. Seperti, belum adanya layanan door to door sehingga biaya handling lebih mahal dibanding moda truk. "Total waktu angkut lebih lama dan kurang fleksibel," jelas Zulmafendi.

    Untuk mengatasi kendala-kendala yang ada, Direktorat Jenderal Perkeretapian telah membuat rencana strategis pembangunan perkeretaapian. Misalnya membangun jalur ganda di Jawa dan Sumatera, reaktivasi jalur kereta, integrasi jalur kereta dengan pelabuhan, membangun jalur baru kereta yang menghubungkan sentra-sentra produksi seperti industri, pertambangan, perkebunan, pertanian dan lainnya dengan pelabuhan.

    Meskipun demikian untuk membangun itu, tidak bisa mengharapkan hanya anggaran dari pemerintah secara keseluruhan. "Anggaran yang dibutuhkan Rp 35, 96 triliun. Anggaran itu tidak bisa dipenuhi semuanya oleh pemerintah. Perlu ada kerja sama dengan BUMN dan sektor swasta," tegas Zulmafendi.

    Sementara itu direktur Utama PT Kereta Api Logistik Hendy Helmi mengatakan, pertumbuhan volume angkutan barang yang diangkutnya mengalami pertumbuhan rata-rata 18,8 persen setiap tahun. Dan pertumbuhan ini akan terus terjaga hingga lima tahun ke depan.

    Pertumbuhan yang sangat positif itu tetap terjadi walaupun masih banyak kendala belum teratasi. "Misalnya, saat ini sentra-sentra industri tersebar di mana-mana dan jauh dari jalur kereta api, sehingga menimbulkan inefisiensi dalam handling," ujar Hendy.

    Selain itu dominasi barang masih satu arah, yakni Jakarta ke Surabaya hingga kapasitas penuh. Sementara arah Surabaya ke Jakarta ke Surabaya hanya terisi 20-40 persen dari kapasitas armada.
    "Masih banyak yang harus dilakukan seperti pembenahan emplasment di stasiun, sistem perpindahan jalur kereta, pemanfaatan teknologi, dan sebagainya," tutup Hendy. (son)