BTN Ditunjuk Sebagai Pilot Project Layanan HT-el

    10
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Kementerian Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia (ATR RI) menunjuk PT Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai pilot project Layanan Hak Tanggungan Elektronik (HT-el). Layanan anyar tersebut bertujuan mempercepat penyelesaian sertifikat hak tanggungan (HT) sebagai second way out penerapan Pernyataan Standar Akutansi Keuangan (PSAK 71) di BTN.

    Plt Direktur Utama BTN Oni Febriarto Rahardjo usai Soft Launching Layanan HT-el beraamMenteri ATR Sofyan Djalil di Jakarta, Rabu (4/9) mengatakan, HT merupakan jaminan pelunasan utang atas hunian termasuk tanahnya. Dengan adanya sertifikat HT tersebut, akan memberikan wewenang kepada kreditur untuk melakukan tindakan seperti lelang atau penjualan agunan ketika terjadi kredit macet.

    Oni mengatakan, BTN menjadi lembaga perbankan yang pertama kali mengimplementasikan HT-el. Melalui layanan tersebut, kata Oni, dapat mempercepat penyelesaian sertitikat HT. Sertifikat HT sendiri bisa mempercepat mekanisme lelang sehingga BTN tidak perlu membentuk pencadangan (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai/CKPN).

    Adanya HT-el ini, kata Oni, akan menjadi langkah antisipasi sebelum membentuk pencadangan. Dengan langkah antisipasi ini beserta upaya peningkatan pencadangan yang dilakukan, BTN membidik rasio pencadangan di atas 100 persen pada 2020 nanti.

    Oni mengungkapkan, dengan adanya sistem elektronik tersebut juga akan membantu BTN dalam memantau pengerjaan HT. Layanan anyar ini pun akan meminimalisasi biaya proses pendaftaran HT.

    Pasalnya, sertifikat tersebut akan didaftarkan langsung oleh bank selaku kreditur tanpa perantara notaris. Dengan begitu, tambah Oni, biaya yang dibayar disesuaikan dengan nilai hak tanggungan. "Dengan biaya yang lebih murah akan menjadi gimmick menarik karena biaya proses kredit lebih terjangkau bagi para debitur," paparnya.

    Hingga kini, Oni menyebutkan, bank yang dipimpinnya telah mempersiapkan berbagai hal teknis untuk mendukung pelaksanaan implementasi HT elektronik di BPN. "Kami juga akan mensosialisasikan implementasi HT-el ke 102 kantor cabang dan 6 kantor wilayah kami yang tersebar di seluruh Indonesia. Kami juga siap melakukan sosialisasi kepada seluruh notaris rekanan untuk menggunakan HT-el," tutur Oni.

    Sementara itu, per 31 Agustus 2019, total nilai HT yang didaftarkan BTN yakni sebesar Rp 26 triliun. Nilai tersebut terdiri atas HT untuk kredit konsumer sebesar Rp 13,5 triliun dan kredit komersial sebesar Rp 12,5 triliun. Kemudian, total debitur yang didaftarkan dari HT tersebut yakni sebanyak 28.239 debitur, dengan rincian 27.385 debitur konsumer dan 854 debitur komersial.

    Dalam kesempatan yang sama, Menteri ATR sekaligus Kepala BPN Sofyan A Djalil mengatakan, layanan elektronik ini akan memberikan kemudahan bagi masyarakat terutama yang ingin mengurus Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Penerapan layanan pertanahan berbasis elektronik ini, tambah dia, juga akan membuat kerja para kepala kantor pertanahan menjadi lebih mudah, ringan, dan cepat.

    Untuk tahap awal, Sofyan menyebutkan telah menunjuk 42 Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota sebagai pilot project layanan pertanahan elektronik yang terintegrasi. "Pada tahun depan, layanan ini akan berlaku secara nasional," tutur Sofyan. (son)