Gowes Kemayoran Sambangi Situs Relief dan Menara ATC

17

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Sabtu dan Minggu biasanya dilalui dengan acara santai. Begitu juga sekitar 100 orang komunitas Gowes Sepeda Kemayoran memanfaatkan hari libur kerja, Sabtu (5/9), dengan berkumpul di FX Sudirman kemudian bersama-sama mengayuh sepeda menuju Kemayoran yang jaraknya sekitar 8 kilometer. Tujuan mereka adalah Menara Kontrol Penerbangan (ATC) dan Eks Terminal Bandara Kemayoran.

Dua titik tersebut menjadi incaran, karena sebelumnya para anggota komunitas sepeda ini sudah mendengar Menara ATC Bandara Kemayoran dulunya pernah masuk dalam kisah komik Tintin yang legendaris itu. Sementara itu di eks Terminal Bandara terdapat relief berupa pahatan yang menggambarkan kekayaan Indonesia yang luar biasa, mulai dari tumbuhan dan tanaman, hewan-hewan, budaya hingga profil manusia Indonesia.

Ada tiga buah relief yang terdapat pada dinding ruang tunggu yang dulu merupakan ruang VIP Bandara, masing-masing merupakan karya Harijadi Sumodidjojo, Sindoesoedarsono Soedjojono, dan Soerono. Relief-relief dibuat dengan mengusung tema tentang kekayaan Indonesia atas gagasan Presiden Soekarno pada tahun 1957 untuk menyambut tamu negara yang tiba di Indonesia saat itu.

Harijadi Sumodidjojo menggambarkan kekayaan Indonesia dalam rancangan karyanya yang bertema “Flora dan Fauna”. S. Soedjojono menggambarkannya dalam tema “Manusia Indonesia”. Sedangkan Soerono menceritakan sebuah legenda yang terkenal di tanah Pasundan yaitu “Sangkuriang”.

“Karya fenomenal yang berada di Eks Bandara Internasional Kemayoran tersebut hingga kini memang masih kurang dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu melalui berbagai kegiatan kami ingin memperkenalkan merupakan kawasan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi khususnya sejarah penerbangan Indonesia,” kata Direktur Perencanaan dan Pembangunan Pusat Pengelolaan Komplek (PPK) Kemayoran, Riski Renando.

Banyak orang yang terperangah melihat relief yang ada, termasuk komunitas Gowes Sepeda Kemayoran yang baru pertama kali datang. “Saya baru kali ini datang melihat relief yang ada. Yang saya ingat tentang Kemayoran dulu ada Air Show 1984,” ujar Iwan yang datang bersama rombongan anggota komunitas sepeda.

“Saya kira Terminal Bandara ini malah sudah tidak ada. Ternyata bukan cuma masih beriri, tapi juga ada relief bersejarah di dalamnya,” ujar Pandu, pegowes yang lain. Pandu dan Iwan, dan juga para pegowes lainnya berharap kekayaan sejarah di Kemayoran bisa tetap terjaga. Selain itu mereka memohon agar lingkungan area bersejarah ini juga tetap terjaga kebersihannya. (grd)