Spin Off UUS Dalam Kajian, BTN Butuh Modal Rp 5 Triliun

    17
    YOGYAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan batas waktu kepada BTN untuk menyerahkan hasil kajian dan rencana spin off Unit Usaha Syariah (UUS) sampai akhir tahun 2020. Pelaksanaan eksekusi spin off tersebut selambat-lambatnya pada tahun 2023. "Upaya untuk mewujudkan rencana tersebut bukan pekerjaan mudah. Ada tiga desain yang sedang dikaji, yakni mendirikan sendiri dengan modal sangat besar, join dengan yang lain, atau dilepas atau dijual," ungkap Direktur Keuangan BTN Nixon Napitupulu saat mesia gathering di Yogyakarta, Jumat (4/10) malam.

    Pada diskusi Menyambut Spin Off USS BTN, Dampaknya pada Bisnis dan Industri Rumah Rakyat terungkap, BTN harus segera memutuskan untuk memilih modal 100 persen, 61 persen atau dengan 39 persen. Sementara dana yang dibutuhkan untuk spin off sekitar Rp 5 triliun dengan tujuan menjaga kecukupan modal Badan Usaha Syariah (BUS) perseroan nantinya. 

    Menurut Nixon, jika ingin jalan sendiri memang butuh capex sangat besar. Hitungan kasarnya, setidaknya butuh suntikan modal Rp 4,5 triliun sampai Rp 5 triliun. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga ekspansi UUS paling tidak sampai lima tahun ke depan setelah spin off terlaksana.

    Sementara Direktur Bisnis Konsumer BTN Budi Satria mengatakan, kinerja UUS BTN saat ini sudah cukup baik. Nantinya, ekspansi UUS BTN akan lebih luas dan kencang setelah spin off. "Spin off ini merupakan rencana strategis untuk meningkatkan kinerja BTN pada 2020. Pertimbangannya, BTN syariah punya kinerja yang baik. Tapi, karena masih unit usaha, hasilnya belum maksimal sehingga perlu jadi perkembangan bisnis yang lebih luas dan profesional," ujar Budi.

    Hingga semester 1-2019 lalu UUS BTN mencatat pertumbuhan aset sebesar 19,67 persen menjadi Rp 29,17 triliun. Kemudian penyaluran pembiayaan tumbuh 16,54% menjadi Rp 23,16 triliun, serta penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 18,15% menjadi Rp 23,02 triliun.

    Sementara untuk memperluas bidang usaha, BTN berencana menguasai saham perusahaan asuransi Jiwasraya Putra, anak usaha PT Asuransi Jiwasraya. Rencana ini akan mendapat kepastian pada akhir tahun ini.

    Nixon menambahkan, saat ini ada tiga investor asing yang sedang melakukan penawaran untuk melakukan penyertaan modal ke Jiwasraya Putra. Dari saham yang dibeli, lanjutnya, nantinya BTN akan menerima sebagian saham, tanpa mengeluarkan modal, tetapi dengan landasan perjanjian kerja sama guna mendukung bisnis Jiwasraya Putra.

    Saat ini tahap pitching investor ini sedang berjalan. Kepastian penguasaan saham ini baru diketahui akhir tahun. Tapi jika investor tersebut tidak lolos proses pitching, maka rencana penguasaan modal otomatis juga batal.

    Nixon menuturkan, investor baru nantinya akan menguasai 65% saham Jiwasraya Putra. Sementara BTN diberi porsi saham 20%, PT Telekomunikasi Indonesia sebesar 13%, dan sisanya PT Kereta Api Indonesia serta PT Pegadaian. (son)