UP Dukung Pemenuhan SDM Unggul Lewat Pendidikan Vokasi

    22
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Indonesia dalam lima tahun ke depan memiliki agenda utama untuk menyasar terwujudnya  sumber daya manusia yang unggul dan memiliki daya saing dalam menghadapi perubahan dunia. Demikian salah satu benang merah  Focus Group Discussion (FGD) yang yang diselenggarakan Universitas Pertamina (UP) dengan tema Policy and Strategy for Developing Skilled Employees Through Vocational Education and Training yang berlangsung di Jakarta, Selasa (14/10)

    FGD yang dibuka Rektor Universitas Pertamina Prof. Akhmaloka, Ph.D menghadirkan sejumlah pembicara yang berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi,  Kementerian Ketenagakerjaan, PT Pertamina, PT Sinar Mas, Asosiasi Pengusaha Indonesia, Akashi College Jepang, dan Yayasan Budha Tzu Chi.

    Menurut Akhmaloka, di sektor industri minyak dan gas bumi, Indonesia masih membutuhkan tenaga-tenaga terampil yang siap ditempatkan di sektor onshore maupun offshore minyak dan gas bumi, dan baik ditempatkan di industri hulu maupun hilirnya. Hal ini dapat dipenuhi dengan menghadirkan lembaga pendidikan  vokasi yang berkualitas dan mampu mencetak lulusan-lulusan yang siap kerja di bidang industri minyak dan gas bumi.

    Akhmaloka mengatakan, sebagai wujud dukungan terhadap program besar Indonesia tersebut, Universitas Pertamina mendukung pendirian lembaga pendidikan vokasi untuk memenuhi kebutuhan SDM yang unggul dan terampil.

    Dia menjelaskan, sepertinya kurikulum pendidikan di Indonesia sudah baik dan lulusannya siap untuk dipakai. Namun, pelaku industri ternyata tidak bisa langsung menerima lulusan perguruan tinggi dan diploma untuk bekerja. Oleh karena itu, pendidikan vokasi menjadi sangat penting untuk menyiapkan tenaga terampil bagi pemenuhan industri

    Pada kesempatan yang sama Direktur Sumber Daya Manusia PT Pertamina Koeshartanto mengatakan, saat ini dibutuhkan tenaga kerja yang adaptif dengan dinamika perubahan global dan nasional, sebab tantangan kedepan membutuhkan agiliti, siapa yang cepat berinovasi akan bisa bersaing dalam dunia kerja. “Dengan adanya forum diskusi seperti FGD ini harapannya akan dicari dan diperoleh kurikulum yang dapat dituangkan kedalam suatu kebijakan yang lebih tajam dan sesuai, sehingga bisa disampaikan ke pemerintah, kementrian atau badan usaha terkait,” tuturnya.

    President National Institute of Technology, Akashi College, Dr Hideaki Kasai menilai bahwa, Jepang membutuhkan kerjasama yang kuat dengan Indonesia, karena Indonesia adalah negara yang perekonomiannya terus berkembang, begitu halnya dengan pertumbuhan dan perkembangan sumber daya manusianya, “Kami selalu tertarik menggunakan tenaga kerja dari Indonesia, selain karena ada kelangkaan tenaga kerja di Jepang, kami selalu ingin memperkuat basis kerjasama yang sudah ada selama ini,” tegasnya.

    Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Dan Kemitraan Universitas Pertamina, Budi W Soetjipto, Ph.D menjelaskan, hasil dari FGD ini akan dijadikan sebagai proposal sebagai masukan kepada pemerintah agar bisa dijadikan sebagai bahan petimbangan dalam membuat kebijakan terkait penyesuaian kurikulum yang sinergi dengan industri atau dunia kerja. “Kurikulum yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan industri, industri yang terus berubah maka kurikulumnya pun harus siap berubah mengikuti kebutuhan industri," pungkasnya.

    Ini penting, kata Budi, mengingat industri migas terus berkembang, explorasi terus dilakukan, kilang-kilang baru terus dibangun, dan itu semua membutuhkan tenaga kerja terampil. Hal ini juga bagian antisipasi terhadap masuknya tenaga kerja asing.

    Sementara salah seorang pengurus Yayasan Budha Tzu Chi Haneco W. Lauwensi mendukung hadirnya lembaga pendidikan vokasi agar ilmu yang didapat langsung dapat diaplikasikan ketika memasuki dunia kerja. "Kita pengusaha inginnya mereka yang direkrut sebagai karyawan benar-benar sudah terampil. Makanya kita dukung upaya-upaya lembaga pendidikan yang menciptakan tenaga kerja terampil," kata Haneco. (son)