Garuda Segera Operasikan 100 Pesawat Kargo Tanpa Awak

    12
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Angkutan kargo dengan pesawat tanpa awak (drone) adalah keniscayaan sebagai angkutan logistik masa depan. "Kita segera miliki 100 unit Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak, dan saat ini masih dalam tahap ujicoba," kata Direktur Kargo dan Pengembangan Bisnis Garuda Indonesia Muhammad Iqbal saat menjadi pembicara dalam diskusi di Jakarta, Selasa (22/10)

    Diskusi Menata Drone di Langit Pertiwi Potensi dan Penerapannya sebagai Angkutan Logistik Udara Nasional yang digelar Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) dibuka Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana B. Pramesti. Hadir sebagai narasumber antara lain Direktur Teknik PT Angkasa Pura II, Djoko Murdjatmodjo, Direktur Operasional Airnav, Moh Khatim, Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha, Muh Iqbal, Mohamad Hasan Bashory sebagai Kasubdit Standardisasi dan Prosedur Navigasi Penerbangan, Ditnav Penerbangan serta Johanis M Tangke sebagai Kasubdit Sertifikasi Pesawat DKPPU, dan Plt VP Airport Sefety PT Airport I, Salim

    Menurut Iqbal, PT Garuda Indonesia segera menggunakan 100 pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle/UAV untuk mengirim logistik ke berbagai daerah, karena sangat efektif dan efisien  mengingat Indoneaia sebagai negara kepulauan, juga dapat menggerakan ekonomi di suatu daerah. "UAV atau drone itu dibeli dari perusahaan China, Beihang UAS Technology," kata Iqbal.

    Adapun drone yang dirakit di Indonesia itu, kata Iqbal, memiliki lebar sayap 18 meter, jangkauan mencapai 1.200 kilometer, dan dapat mengangkut kargo seberat 2,2 ton. Hal itu dipandang akan menguntungkan Garuda di sektor logistik, terutama banyak potensi perikanan di daerah tertentu terutama di timur Indonesia yang menjadi pasar potensial UAV ini.

    Iqbal menjelaskan, sebanyak 100 drone yang didatangkan itu tidak dioperasikan serentak, melainkan secara bertahap selama 5 tahun ke depan. Nantinya 100 drone itu akan mengirimkan logistik dari dan ke 30 lokasi di seluruh Indonesia. "Bertahap dalam 5 tahun ke depan. Rutenya dari dan ke 30 lokasi Indonesia, yang banyak potensi perikanannya,” jelasnya.

    Menurut Iqbal, pihaknya memilih drone untuk mengantarkan logistik karena hanya menelan biaya sebesar 30 persen lebih rendah dibandingkan memakai pesawat kargo konvensional. Rencana ini sudah dimatangkan sejak tahun lalu. "Karena biayanya lebih rendah dibanding pesawat kargo konvensional, jadi cargo drone ini menjadi sangat efisien," ucapnya.

    Sementara Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti menyampaikan, dalam menyelenggarakan angkutan udara tanpa awak atau drone ini bukan sekadar mengikuti tren saja namun juga diimbangi dengan pentingnya keselamatan penerbangan. "Di penerbangan yang utama adalah 3S+1C (Safety, Security, Services, dan Complay) dan ini juga akan berlaku pada angkutan tanpa awak,” jelas Polana.

    Pihaknya, kata Polana, akan mengawal dengan mempersiapkan regulasinya demi keselamatan dan keamanan penerbangan.

    Regulasi ditambahkan Kasubdit SSNP Direktorat Navigasi Penerbangan M. Hasan Basory akan disempurnakan dengan menyesuaikan tata navigasinya dengan radar dan alat bantunya. "Regulasi tidak akan susah-susah dan ribet,” ujar Hasan.

    Ditargetkan akhir tahun ini, perundangan tentang Drone bisa selesai. Apalagi, kata dia, penetapannya similar dengan ketentuan yang sudah ada. (son)