Semangat Sumpah Pemuda Harus Menjadi Teladan Generasi Muda

    10
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Anggota MPR RI Herman Khaeron memastikan masa depan bangsa ini  akan ditentukan generasi muda sekarang. Iaoun meminta generasi muda saat ini dapat meneladani semangat pemuda di era perjuangan kemerdekaan.
    Penegasan disampaikan Herman Khaeron  dalam diskusi “Memaknai Sumpah Pemuda” di Gedung Nusantara III Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/10).

    Saat ini, menurutnya, Bangsa Indonesia diuntungkan memiliki penduduk dengan usia muda yang dominan. Sehingga dalam rentang 10 samoai 20 tahun ke depan, bangsa Indonesia diperkirakan akan memperoleh bonus demografi. Yaitu kondisi di mana usia produktif penduduk Indonesia lebih besar dibanding usia yang tidak produktif (anak-anak dan lanjut usia). "Dengan komposisi yang demikian, bangsa ini sebagian besar arah dan geraknya ditentukan oleh anak muda. Untuk itu sukses tidaknya bangsa ini tergantung pada anak muda,” ucap politisi Partai Demokrat ini.

    Jumlahnya diperkirakan mencapai  52 persen atau sekitar 105 juta orang. "Bonus demografi puncaknya di tahun 2035, apakah Indonesia akan layu sebelum berkembang atau tidak? Jadi, harus ada akselerasi, percepatan menuju Indonesia adil makmur dan sejahtera di 2045,” ingatnya.

    Anggota Fraksi Golkar MPR RI, Dyah Roro Esti Widya Putri mengakui moment Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928  merupakan simbol perjuangan anak muda saat ini untuk bersatu. Apa yang telah dilakukan oleh para pemuda pada masa itu diakui sebagai nikmat yang dirasakan oleh bangsa Indonesia saat ini. “Sekarang kita merasakan nikmat dari perjuangan para pemuda,” ucap Dyah.

    Mengenai bonus demografi,  Dyah mengakui di satu sisi mempunyai potensi yang memberi harapan namun di sisi yang lain juga bisa membawa ancaman. "Akan menjadi ancaman bila bonus demografi tak disiapkan dengan baik. Contoh akses pendidikan yang sulit, lingkungan yang buruk, susah mendapat air bersih, disebut merupakan ancaman terhadap bonus demografi. Juga merupakan pelanggaran hak asasi manusia,” ujarnya.

    Sedang kabar baik dari bonus demografi, menurut Dyah Roro adalah akan menjadi kekuatan bangsa Indonesia di pentas dunia. Untuk itu dirinya mendorong agar pemerintah memberi beasiswa kepada anak-anak muda.

    Sementara itu, anggota MPR dari unsur DPD RI Engelius Wake Kako berpendapat Sumpah Pemuda tak akan diucapkan bila pemuda Indonesia tidak pernah bersatu. “Apa yang dilakukan oleh pemuda itu menjadi spirit bagi kita," ujarnya.

    Saat ini menurut mantan aktivis PMKRI itu bangsa ini mendapat tantangan berupa pemersalahan ekonomi yang bisa mengatur dunia politik dan masalah fundamentalis agama. Dirinya berharap agar kita menyudahi pembicaraan yang menguras energi. “Harapan saya stop diksi yang mengarah pada perpecahan," ujarnya. (har)