Bamsoet : Negara Kuat jika Partai Politik Kuat

    13
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai dalam sebuah negara demokrasi seperti Indonesia, miniatur pengelolaan kehidupan politiknya bisa dilihat dari tata kelola partai politiknya.

    Jika partai politik dikelola sangat baik, maka pengelolaan kehidupan politik di negara tersebut juga baik. Karena itu, untuk membenahi dan memajukan Indonesia, terlebih dahulu harus dibenahi dan dimajukan partai politiknya. "Menjaga dan merawat demokrasi adalah menjaga dan merawat partai politik. Demokrasi telah dipilih menjadi cara hidup (way of life) kita dalam berbangsa dan bernegara, dan partai politik adalah batang tubuhnya. Negara demokrasi kuat jika partai politiknya kuat. Negara demokrasi rapuh jika partai politiknya keropos," ucap Bamsoet saat menjadi Keynote Speaker dalam Diskusi Publik 'Golkar Mencari Nahkoda Baru', yang diadakan Posbakum Golkar di Jakarta, Selasa (12/11).

    Bamsoet menjelaskan semua instrumen yang bekerja pada negara terlebih dahului melalui assessment partai politik. Bisa dibayangkan jika partai politik terkelola dengan buruk, taruhannya tentu masa depan rakyat, masa depan bangsa dan negara. "Harus disadari, sesungguhnya partai politik lahir untuk mengemban tugas-tugas besar, kerja-kerja luhur dan penuh kemuliaan. Karena itu, seluruh visi dan misi partai politik tidak pernah membicarakan tentang hal hal kecil, remeh temeh atau pribadi-pribadi orang per perorang. Tetapi, partai politik membicarakan hal-hal besar, membicarakan bangsa, umat, negara serta khalayak seluruhnya," terangnya.

    Khusus bagi Partai Golkar dimana ia juag menjadi salah satu kadernya, Bamsoet memiliki catatan dalam kiprah partai politik tertua di Indonesia itu terlebih bulan Desember 2019 nanti akan menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) untuk memilih Ketua Umum.

    Catatan pertama, perolehan suara di Pemilu 2019 hilang sebesar 1,2  juta suara, jumlah itu apabila dan dikonversi maka sama saja Golkar kehilangan 6 kursi DPR RI. Oleh karena itu, ia meminta Partai Golkar harus melakukan konsolidasi membangun kembali kekuatan dengan merangkul semua golongan dan komunitas.

    Di masa lalu, Sekber Golkar berhasil mengakumulasi kekuatan yang bersumber dari ratusan organisasi, yang kemudian dikelompokan dalam tujuh Kelompok Induk Organisasi (KINO), antara lain Kosgoro, Soksi dan MKGR, serta sejumlah organisasi kepemudaan dan keagamaan," urainya.

    Partai Golkar di masa lalu juga mampu menjalankan perannya sebagai perekat keberagaman bangsa, sehingga turut menjadi kekuatan politik yang tak terpisahkan dari eksistensi Indonesia. "Maka, karena panggilan sejarah pula, takdir itu harus diaktualisasikan lagi karena kehendak zaman. Termasuk menyatukan kembali berbagai kekuatan yang lama terserak menjadi satu kekuatan penuh, termasuk para purnawirawan dan keluarga TNI/Polri serta Satkar Ulama, MDI dan Al Hidaiyah yang selama ini jalan sendiri-sendiri," ucap Wakil Koordinator Bidang Pratama DPP Partai Golkar ini. (har)