Pariwisata Indonesia Maju dengan Kekuatan Budaya Bangsa

    23
    "Saya tidak akan mengubah kultur dan kekuatan budaya Bali itu. Dan saya tidak punya hak mengubah itu. Tugas saya justru mempromosikan, mengembangkan. Justru saya harus melindungi budaya kita dari budaya-budaya asing. Saya jamin itu. Itu budaya yang saya kagumi sejak saya lahir. Itu yang harus kita jaga, yang harus kita kelola dan promosikan ke seluruh dunia…’’

    Demikian pernyataan Wishnutama Kusubandio, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam wawancaranya dengan Satria Naradha, Wartawan Utama Kelompok Media Bali Post dalam program “Indonesia Maju Bali TV” di Jakarta, Rabu (13/11).

    Dalam wawancara tersebut juga terungkap komitmen Wishnutama dalam hal perlindungan budaya bangsa karena merupakan daya tarik yang luar biasa untuk wisatawan mancanegara. Berikut petikan wawancara yang juga disiarkan Jumat (15/11) di Bali TV pukul 19.00 Wita.

    Bagaimana visi Pak Presiden dalam konteks perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif kita ke depan?

    Visi dari Bapak Presiden intinya adalah, satu, meningkatkan devisa sebesar-besarnya. Kedua, juga kita diharapkan bisa menjadi menyumbang devisa terbesar di Indonesia, karena sekarang ini kita nomor dua. Kita harapkan dengan berbagai macam strategi dan action yang kita lakukan, mudah-mudahan bisa meningkatkan posisi itu menjadi nomor satu.

    Menurut kami ini sangat penting untuk kita wujudkan. Ekonomi kreatif kita juga diharapkan bisa mempunyai daya saing kualitas barang-barangnya, bahkan bisa diekspor sehingga bisa mendatangkan devisa juga.

    Memang ke depan bukan devisa yang kita harapkan, tetapi juga membuat dampak yang positif kepada masyarakat di daerah tujuan wisata tersebut. Begitu banyak potensi dari pariwisata ini sendiri. Kita tahu ada lima sumber prioritas, yaitu Labuan Bajo, Mandalika, Likupang, Borobudur, Toba. Itu mirip program yang diakselerasi, agar segera terwujud. Tetapi juga, berbagai macam wilayah di luar itu yang mempunyai potensi wisata juga harus kita kembangkan.

    Bukan berarti lima itu, yang lain dilupakan. Enggak, enggak begitu sama sekali. Justru tetap kita bangun sedemikian rupa agar mempunyai daya tarik. Salah satu keunggulan bangsa Indonesia dalam hal ini adalah budayanya, kearifan lokalnya dan alamnya.

    Dan itu berkali-kali saya sampaikan dalam berbagai macam kesempatan, bahwa ini yang harus kita lindungi, ini yang harus kita dapat jaga, karena justru di sinilah yang jadi daya tarik yang luar biasa untuk wisatawan mancanegara.

    Nah itu juga salah satu tantangan bagaimana kita bisa mengemas mengelola ini dan dampaknya untuk kesejahteraan masyarakatnya, memberdayakan masyarakatnya. Apalagi ini ditunjang ekonomi kreatif.

    Ekonomi kreatif itu banyak sekali yang bisa menunjang. Dan ini juga akan kita lakukan melalui ekonomi kreatif, karena kami membawahi ekonomi kreatif saat ini untuk dapat dikembangkan.

    Banyak yang bisa dikembangkan kita kembangkan di destinasi wisata, misalnya kriya, fashion, kuliner, berbagai macam termasuk konten. Itu adalah hal yang saling menunjang, tidak saling mengurangi menurut saya, saling memperkaya antara pariwisata dan ekonomi kreatif sehingga menjadi satu kekuatan yang utuh bisa punya dampak yang sangat positif ke banyak masyarakat di Indonesia. Dan itu salah satu yang akan kita kembangkan ke depan.

    Dan memang banyak, macam-macam strategi yang akan kita lakukan ke depan. Pertama, kita akan mengusulkan Indonesian branding, satu branding yang menjadi brand-nya Indonesia. Memang sebelumnya sudah ada Wonderful Indonesia, tetapi kami berpikir ke depan kita justru harus membuat sesuatu yang relevan dengan perkembangan zaman.

    Apalagi di era digital seperti sekarang ini. Itu salah satu yang penting juga yang akan kita bangun. Begitu juga dengan brand-brand Indonesia, ini juga harus kita bantu, harus kita support sehinggga produk-produk Indonesia bisa bersaing dengan produk-produk luar negeri.

    Kita tahu beberapa negara seperti Thailand bahkan Fiji punya brand yang begitu terkenal ke seluruh dunia yang akhirnya bisa menjadi ambassador bagi negaranya, me-represent negaranya juga.

    Tidak berhenti di situ saja, kuliner, restoran misalnya, saya tahu betul Thailand di pertengahan tahun 80-an dia bikin restoran di mana-mana di seluruh dunia, di kota-kota besar. Restorannya juga bukan yang kelas standar, betul-betul restoran yang berkelas, menjual makanan-makanan Thailand, karena di situlah awal muasalnya orang tertarik untuk mengunjungi suatu negara.

    Dari makanan, makanan itu juga bisa menjadi sarana promosi tanpa kita sadari. Nah, ini salah satu yang membuat Thailand sekarang harus kita akui lebih maju pariwisatanya. Karena mereka punya planning yang begitu panjang dan konsisten, gak berhenti.

    Selalu dibangun terus, dibangun, dibangun sampai hari ini. Yang sedihnya lagi buat kami, tiap restoran Thailand sudah ada rendang, sudah ada sate, sudah ada nasi goreng, sudah menjadi menu makanan-makanan setiap restoran Thailand. Ini kekayaan bangsa Indonesia, ini budaya bangsa Indonesia.

    Strategi-strategi itu yang mesti kita lakukan, begitu juga dengan pemasaran. Pemasaran era digital ini juga harus mikro targeting, bisa kita sesuaikan. O… orang ini suka gunung, bisa kita targeting di era digital. O… orang ini suka pantai, jangan orang suka pantai kita kasi gunung, mana mau datang. Dan juga sebaliknya, itu contoh kecil.

    Kita juga bisa memanfaatkan konten kreator-kreator dari negara tertentu yang punya pasar untuk datang ke Indonesia. Saya pikir, cara-cara modern, cara-cara yang berbeda harus berani kita lakukan.

    Kita harus melakukan terobosan cara pemasaran yang baru. Saya ambil contoh New Zealand pada saat film “Lord of The Ring” dibuat di New Zealand, pariwisatanya meningkat sangat signifikan. Gara-gara film ‘’Lord of The Ring’’, satu judul film lho.

    Ini juga bisa menjadi cara kita mempromosikan, tidak melulu dengan cara-cara konvensional. Ini PR kita ke depan. Ini super prioritas dan Presiden mengharapkan tahun 2020 sudah jadi.

    Tapi pariwisata tidak hanya tentang infrastruktur, ekosistemnya, keramahtamahannya, kesiapan masyarakatnya, menjaga budayanya menjaga kearifan lokalnya, itu justru orang pingin lihat. Karena kalau kita bicara misalnya danau, di mana-mana ada danau, tetapi yang membuat lebih kearifan lokalnya, kulturnya, budayanya.

    Beberapa destinasi wisata di Indonesia sangat menarik, apalagi Bali. Bali itu daya tariknya di situ, kulturnya, keramahtamahannya. Saat kita di Bali, hati ini terasa lega, karena kultur dan budaya Bali.

    Kita memang sepakat optimis dengan budaya bangsa kita, dengan kearifan lokal kita, kita akan bisa mencapai kemajuan di bidang pariwisata dan kemajuan ekonomi kreatif kita untuk kemajuan bangsa kita. Strategi khusus apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi tantangan global dan perubahan tren generasi milenial kita dalam berwisata yang mungkin berubah, juga sinergi penerbangan dalam mendukung pariwisata di destinasi tertentu?

    Baca juga:  Gubernur Koster Ikuti Aksi "Suksma Bali" di Kuta, Akan Luncurkan KBS

    Saya sempat diskusi dengan Pak Presiden, bahwa bagaimana kita mensinergikan pariwisata kita ke depan lebih jelas lagi. Saya juga concern bagaimana kita melindungi alam kita, menjaga supaya kita tidak tambah kotor, seperti sampah dan sebagainya.

    Makanya salah satu strategi kita ke depan juga meningkatkan kualitas wisman. Dengan meningkatnya kualitas wisatawan yang datang ke Indonesia, selain membawa devisa yang jauh lebih besar, juga akan lebih baik untuk melindungi alam kita, melindungi budaya kita, karena semakin orang mempunyai kemampuan semakin menghargai hal-hal seperti itu. Juga punya dampak ekonomi, karena kemampuan daya mereka kan lebih tinggi.

    Saya lebih prepare bukan jumlah wisatawannya, tetapi devisanya sehingga mempunyai impact yang luar biasa secara ekonomi. Saya ambil contoh New Zealand, wisatawannya cuma 4 juta per tahun, tetapi everage spending per arrival-nya hampir 5.000 US dolar.

    Sementara Indonesia sekarang 1.220 US dolar. Kan lebih baik kita ngurusin yang sedikit tetapi berkualitas. Kalau pariwisatanya lebih premium biasanya tidak terlalu mengganggu atau merusak yang ada. Premium cenderung lebih menghargai adat istiadat setemat, budaya setempat. Ini strategi jangka panjang.

    Untuk kalangan milenial, bagaimana kita menargetkan lebih tepat, mikro targeting. Jadi lebih presisi, di zaman sekarang seperti itu.

    Cara-cara marketing itu yang kita mesti lakukan ke depan, tetapi cara-cara konvensional masih perlu juga. Kita harus punya sesuatu yang lebih bisa dipertanggungjawabkan. Karena kalau digital kan… o… yang lihat berapa juta, komennya berapa banyak, itu yang menjadi tolok ukur.

    SDM-nya juga harus kita sesuaikan, kita tingkatkan sesuai perubahan zaman ini. Itu menjadi salah satu fokus kita. Misalnya kalau kita pergi ke tempat A, budaya atau kulturnya lebih terasa, itu menjadi kelebihan. Bukan kita berlomba ikut-ikut yang modern, karena saya justru khawatir kalau kita ikut-ikut ke arah sana akhirnya kita tidak akan punya suatu keunikan, itu kata kuncinya.

    Keunikan ini menjadi satu kata yang sangat penting dalam positioning kita di begitu banyak destinasi wisata di dunia ini. Dan salah satu yang menjadi contoh keunikan ini adalah Bali.

    Menarik sekali, bagaimana seorang menteri muda komitmennya dalam memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif dengan tetap penjaga alam, manusia Indonesia, dan budayanya. Tetapi bagaimana dengan yang belakangan ramai diperbincangkan di media?

    Salah satu yang menjadi contoh keberhasilan keunikan itu adalah Bali.  Begitu stand out nya Bali. Bahkan saat saya kuliah tahun 90-an, saya kuliah di Amerika di sebelah ujung sana di perbatasan Kanada, mereka mengetahui Bali. Itu kenyataan.

    Indonesia dikira di Bali bukan Bali di Indonesia. Kenapa orang tau, saya tanya. Kenapa tahu? Dia kasi lihat baju-baju tariannya, baju daerahnya, saya lihat sendiri, saya rasakan sendiri sebagai seorang mahasiswa saat itu, itu yang mesti kita jaga, itu yang mesti kita kelola dan kita promosikan ke seluruh dunia.

    Terus terang saya kaget juga, karena yang diberitakan yang pertama headline dari media tersebut saya sama sekali tidak pernah bicara seperti itu. Dan itu yang dikembangkan justru berlawanan sekali dengan prinsip saya.

    Secara pribadi, bukan sebagai menteri saja sudah beda dengan dalam visi saya. Jauh sebelum saya jadi menteri, silahkan dicek dalam saya sebagai pembicara, dalam kuliah umum, sosial media, saya itu sangat menghargai perbedaan, budaya, saya sangat menghargai minoritas, saya sangat menghargai itu semua, dan bahkan sangat melindungi dalam statement-statement saya saat masih bekerja di media dulu.

    Nah mungkin era sekarang ini, di era digital ini kadang-kadang media bikin judul yang bombastis sehingga mengundang klick-bait biar diklik ama orang biar dilihat beritanya. Akhirnya menimbulkan polemik yang menurut saya berlawanan sekali dengan apa yang saya yakini selama ini.

    Sebelum jadi menteri, apalagi jadi menteri. Karena saya begitu meyakini, bahwa pertama saya ini secara pribadi adalah orang yang sangat mengagumi budaya Bali. Saya dibesarkan di keluarga yang mengagumi budaya Bali. Sampai saya dan adik-adik saya semua, memakai nama Bali.

    Jadi rada kaget juga melihat itu Tapi sudahlah, namanya media kadang-kadang suka mencari yang tadi saya bilang klick-bait. Justru saya melihat apa namanya, apa yang saya lihat belakangan ini, saya ingin meluruskan, saya tidak akan mengubah, saya tidak akan berubah dan tidak akan mengubah kultur dan kekuatan Bali.

    Saya tidak punya hak untuk mengubah itu, sama sekali. Tugas saya justru mempromosikan, mengembangkan, justru saya harus melindungi kultur budaya kita dari budaya-budaya asing manapun juga itu. Itu justru tugas saya dan saya jamin ini, bahwa itu budaya yang saya kagumi sejak saya lahir.

    Saya memahami dan mendengar tentang wisdom dari penduduk Bali dari Pulau Bali. Saya diberikan nama juga ada ceritanya. Ada cerita yang begitu kuat tentang Dewa Wisnu. Begitu mendengar itu lumayan kaget, bagaimana orang yang begitu menghargai, bukan karena saya diinterview terus saya mengklarifikasi yang bukan saya demi supaya nggak diserang.

    Saya orang yang sangat menghargai keberagaman itu. Tidak pernah track record saya dengan siapapun juga, bersikap atau berkata atau berucap yang…apa yang namanya ya…tidak menghargai perbedaan dan budaya itu.

    Jadi memang sekali saya luruskan, bahwa saya ini meyakini, bahwa keberagaman kita dan ini sering saya sampaikan dalam berbagai macam kesempatan, keberagaman kita bukan kelemahan, keberagaman kita justru sebuah kekuatan bangsa Indonesia. Pada saat bangsa ini bisa harmoni dalam perbedaan, saya meyakini bangsa ini akan melesat pesat menjadi bangsa yang maju.

    Seperti judul acara ini, Indonesia Maju. Jadi, itu adalah sebuah prinsip yang saya yakini sebagai manusia bukan saja sebagai seorang menteri, apalagi diberi amanah untuk menjadi menteri. Jadi sekali lagi terima kasih, dengan interview ini, mudah-mudahan saudara-saudara kami di Bali, saudara-saudara kita di Bali dapat memahami dan tidak usah khawatir, tidak akan, tidak ada setitik pun dalam pemikiran saya untuk mengubah itu.

    Memang semua tempat wisata harus welcome dengan semua, berbagai macam golongan, itu yang membuat pariwisata itu menjadi sukses. Mau agamanya apa, bangsanya apa, backgroundnyan apa kita harus welcome, harus kita bisa menyediakan, harus friendly dengan semuanya. Istilah saya itu friendly.

    Itu yang membuat Bali seperti sekarang ini, dan itu yang membuat Bali mampu menyumbang devisa 40 persen. Semua tempat wisata punya keunikan dan saya ingin merusak budayanya, alamnya. Saya malah khawatir justru alam dan budaya Bali yang terganggu. Justru bagaimana melindungi itu. (kmb)