Lima Solusi Hadapi Tantangan Parekraf di Era Digital

    22
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekaraf) Angela Tanoesoedibjo memaparkan lima tantangan pariwisata di era kemajuan teknologi digital. Terlebih saat ini pariwisata menjadi sektor unggulan untuk mendatangkan devisa ke Tanah Air.

    Angela mengatakan, Presiden Joko Widodo telah menjadikan pariwisata sebagai sekor unggulan dan juga mengarahkan agar seluruh kementerian mendukung sektor pariwisata ini. "Karena seperti yang kita ketahui, untuk membangun destinasi pariwisata dibutuhkan kolaborasi lintas kementrian/lembaga termasuk pemerintah daerah, contohnya, PUPR untuk akses jalan, Kemenhub untuk aksesibilitas, BKPM untuk investasi, dan sebagainya,” katanya.

    Angela juga menjelaskan, potensi jumlah wisatawan asing jumlahnya masih bisa ditingkatkan ke depannya. Namun, satu hal yang harus menjadi perhatian bersama, yaitu tidak hanya terpaku dengan jumlah wisatawan. Namun dari total devisa yang dihasilkan. "Artinya, kita harus memperhatikan, pengeluaran wisatawan asing sekali datang, cara berhitungnya, dari pengeluaran perharinya, dan jumlah lama hari di sini atau length of stay. Yang harus diusahakan kita bersama adalah dengan 1 wisatawan asing yang sama, bagaimana dia bisa spend lebih besar perhari,” ujarnya.

    Angela merumuskan langkah-langkah konkrit yang dapat dikerjakan bersama untuk menggali potensi pariwisata di Indonesia. Pertama, kata Wamen Angela, mendukung pengembangan akses, amenitas, dan atraksi destinasi wisata baru, atau yang sering disebut sebagai 10 Bali baru dan seluruh ekosistemnya.

    Karena dengan pengembangan ini, opsi produk wisata semakin banyak sehingga bisa menargetkan semakin banyak wisatawan, dan kapasitas untuk bisa menerima lebih banyak lagi wisatawan akan meningkat. "Selain itu, pengembangan ini akan menciptakan lapangan pekerjaan baru, dan meningkatkan ekonomi di berbagai daerah,” ujarnya.

    Kedua peningkatan kualitas SDM selain melalui jalur formal, namun juga bisa dengan vocational training (reskilling/ upskilling) yang bersertifikat internasional dan diakui oleh industri.

    Ketiga, mendukung inisiatif sustainable development tourism atau pengembangan pariwisata berkelanjutan. Dalam hal ini, kata dia, ada banyak elemen di antaranya wish management, pengembangan energi, juga water management, inklusif terhadap komunitas kesetaraan gender, isu keamanan, dan banyak hal lainnya.

    Keempat, lanjut Angela berkaitan dengan citra promosi digital, salah satunya mikro targeting tepat sasaran. Ia mencontohkan, jika calon wisatawan menyukai aktivitas selam, promosinya harus tepat untuk para pencinta selam bukan hiking, begitu pula sebaliknya, dan ini bisa dilakukan melalui digital.

    Solusi kelima yakni mendukung kolaborasi antara pariwisata dan ekonomi kreatif yang harus saling mendukung. Jika melihat destinasi yang sudah matang di Eropa, ekonomi kreatif lebih sering menjadi poin utama. (son)