Megawati Ingin Panglima TNI Dijabat Kaum Perempuan

    36
    JAKARTA (Bisnisnakarta)-
    Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menegaskan keinginannya agar kaum perempuan bisa berperan lebih dalam dunia perpolitikan dan dapat menduduki jabatan penting dan strategis bahkan untuk posisi Panglima TNI.

    Penegasan disampaikan Megawati acara Perempuan Hebat untuk Indonesia Maju di Jakarta, Minggu (22/12) bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Acara diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang kebetulan Megawati duduk sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP.

    Megawati mengungkapkan sudah banyak perempuan yang menjadi pemimpin militer dalam sejarah Indonesia. Ia mencontoh Laksamana Malahayati, seorang perempuan pejuang dari Kesultanan Aceh yang gigih berperang mengusir penjajah.  "Saat itu ada Laksamana Malahayati, dia ikut perang dan menang, saya lupa perang apa di Aceh. Gubernur Jenderal kalah oleh dia. Apa tidak bangga punya Laksamana Malahayati?" kata Megawati.

    Karena itu, Megawati juga ingin agar perempuan dapat memiliki karier yang tinggi di bidang militer.  Megawati pun ingin agar posisi Panglima TNI dapat diduduki kaum perempuan di masa mendatang. "Laksmana Malahayati saja bisa. Panglima TNI, why not? Apakah tidak boleh Panglima TNI kaum perempuan? Presiden saja bisa (dari kaum perempuan-red), artinya ke bawahnya juga bisa," tegas Megawati yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan.

    Lebih jauh,  Megawati  memberi perhatian terhadap kurangnya partisipasi perempuan di bidang politik. Politik yang dianggap tabu, dinilai menjadi salah satu alasan rendahnya kaum perempuan turun dalam dunia politik. "Saya merasa kesepian banyak yang tidak mau ke politik karena menurut mereka masuk politik itu tabu," kata Megawati.

    Padahal, negara sudah memberikan afirmasi kepada perempuan untuk bekecimpung dalam dunia politik. Hal itu itu ditandai ketika ia menjabat sebagai wakil presiden mendampingi Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pemerintahannya ketika itu menetapkan kuota perempuan 30 persen di parlemen. Namun, hingga saat ini kuota itu belum pernah tercapai. "Apakah kita tidak sebaiknya memikirkan ulang karena kenapa 30 persen. Apakah kaum perempuannya sendiri sudah siap? Kenyataannya capaian itu masih sangat sulit," imbuh Megawati.

    Padahal, katanya kehadiran perempuan di dunia politik penting untuk menjalankan tata pemerintahan yang baik. Sebab, apabila jabatan penting dan straegis diduduki perempuan maka diharapkan dapat membuat kebijakan yang mendukung kaum perempuan. "Saya sangat merindukan sekiranya  ada mulai perempuan yang berkeinginan untuk menjadi wakil presiden, untuk menjadi presiden, why not?" tegasnya.

    Selain Megawati, acara bertajuk 'Perempuan Hebat untuk Indonesia Maju' itu juga dihadiri oleh Menkeu Sri Mulyani, Menko Polhukam Mahfud MD, dan pejabat lainnya. (har)