Otomatisasi Sistem Navigasi, AirNav Anggarkan Rp 1,18 Triliun

    52
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) mengalokasilan anggaran sebesar Rp 1,18 triliun dalan rangka  otomatisasi sistem navigasi penerbangan. "Anggaran tersebut memakan separuh lebih dari nilai investasi AirNav Indonesia tahun 2020," kata Dirut AirNav Indonesia Novie Riyanto Raharjo saat Workshop Navigasi Penerbangan di Jakarta, Kamis (26/12).

    Dalam workshop bertajuk Konektivitas Udara Untuk Indonesia Maju, Novie mengatakan, sedikitnya ada enam katagori investasi AirNav tahun depan diantaranya terkait dengan pembangunan gedung serta dukungan fasilitas lainnya yang mencapai Rp 463 miliar, sedangkan investasi yang memakan anggaran cukup besar meliputi pengadaan alat navigasi yang mencapai Rp 174,2 miliar serta surveillance yang mencapai Rp 172 miliar.

    Novie mengungkapkan, investasi menurut wilayah masih menempatkan pulau Jawa sebagai penyerapan anggaran terbesar yang mencapai Rp 1,3 triliun, kemudian wilayah Kalimantan terutama terkait dengan Ibu Kota Negara Baru dengab investasi mencapai Rp 195,9 miliar, menyusul Provinsi Papua yang meliputi 29 program dengan investasi Rp 173,6 miliar.

    Investasi yang menjadi prioritas tahun depan, kata Novie, terkait dengan Upgrade ATC System, ATC Tower, Tower Set Modular Transportable, ADS-B yang meliputi peremajaan dan upgrade ADS-B di beberapa bandara di Indonesia. Terakhir tetkait dengan surveillance dan navigation, seperti Extension Surface Movement Radar Runway 3 Bandara Soetta, Instrument Landing System di Samarinda, Denpasar, Banjarmasin dan Palangkaraya.

    Mengingat penerbangan di Papua memerlukan perhatian khusus, Novie mengatakan, pihaknya memulai dengan peningkatan kualitas SDM Papua, diantaranya menghadirkan 11 putra Papua mengikuti Basic ATS, Basic Taknik berupa beasiswa dan pemagangan.  "Umumnya, infrastruktur bandara di Papua belum mamadai, tapi paling tidak personil AirNav bisa berkomunikasi dengan pilot saat landinv dan takeoff," papar Novie.

    Sementara terkait dengan dukungan AirNav terhadap pengembangan destinasi pariwisata super prioritas untuk lima Bali Baru, Novie mengatakan, untuk Danau Toba atau Bandara Silangit akan dimulai dengan pemasangan ILS, Implementasi PBN, Upgrade Tower Modular, pengembangan wisata udara, dan pelayanan drone dan air taxi.

    Untuk peningkatan pelayanan Navpen di Joglosemar atau Borobudur, Novie mengungkapkan, AirNav akan membabgun tower baru, pemasangan ILS, Implementasi PBN, Runway Capacity YIA hingga 28 traffic perjam, serta restrukturisasi dan peningkatan surveillence ruang udara lapis bawah.

    Sedangkan untuk pelayanan Navpen Bandara Internasional Lombok (BIL), jelas Novie, pihaknya akan mengembangkan bandara untuk peswat Wide Body (B777), peningkatan runway capacity hingga 25 lebih traffic perjam, Implementasi PBN, pelayanan drone dan air taxi, implementasi A-CDM.

    Hal yang sama juga dilakukan terhadap Bandara Komodo – Labuan Bajo dan Bandara Sam Ratulangi – Manado. "Bandara Komodo disiapkan untuk pesawat wide body agar dapat melayani penerbangan jarak jauh misalnya dari Eropa dengan penerbangan lebih dari 10 jam," paparnya. (son)