BMKG Ungkap, Perubahan Lingkungan Percepat Siklus Balik Hujan Ekstrem

    24
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, perubahan lingkungan mempercepat siklus balik hujan ekstrem sehingga menyebabkan banjir karena daya lingkungan menurun. Demikian dikatakan Dwikorita dalam acara peluncuran operasi Teknologi Modifikasi Cuaca untuk mereduksi curah hujan sebagai penanggulangan banjir Jabodetabek di Gedung BPPT Jakarta, Jumat (3/1).

    Menurut Dwikorita, memang benar hujan intensitas ekstrem itu ada siklusnya tetapi dari data bahwa nampaknya perulangan balik atau siklus itu semakin memendek yang biasanya 10 tahunan 20 tahunan menjadi datang hanya dalam waktu 5 tahun atau bahkan kurang. "Kenapa bisa demikian, saya sependapat dengan Kepala BNPB meskipun hujannya tinggi itu alam tetapi perubahan lingkungan itu yang mempercepat siklus balik itu datang, jadi ada pengaruhnya," katanya.

    Menurut Dwikorita, perlu perilaku beradaptasi dan memitigasi serta memperhatikan peringatan dini dalam menghadapi berbagai potensi bencana sekaligus menjaga lingkungan

    BMKG mencatat curah hujan pada 1 Januari 2020 di Jakarta tertinggi sejak 1996. Titik hujan tertinggi ini ada di Jakarta Timur. Data dari beberapa titik pengukuran BMKG, curah hujan di beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya memecahkan rekor tertinggi. Curah hujan tinggi menyebabkan banjir di sejumlah daerah yang luas di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengajak seluruh pimpinan daerah seperti bupati, kepala dinas, camat, kepala desa, tokoh agama, budayawan, tokoh pemuda untuk mengajak masyarakat untuk menghindar dari daerah-daerah yang sangat rawan bencana seperti warga yang tinggal di sekitar aliran sungai dapat dievakuasi ke tempat awan untuk menghindari bencana potensi banjir dan longsor.

    Doni menuturkan banjir dan longsor juga dapat disebabkan oleh perubahan vegetasi karena alih fungsi lahan yakni perubahan kawasan hutan terutama kawasan konservasi menjadi perkebunan, pertanian dan tambang. Ini menyebabkan daya lingkungan tidak kuat menampung curah hujan yang tinggi. "Inilah fenomena perubahan iklim, supaya kita menyadari jangan kita mengganggu alam, nanti alam akan menguji kita," ujarnya.

    Bencana yang ada juga menjadi peringatan kepada semua pemimpin di daerah dan juga para pelaku usaha untuk melakukan kegiatan usaha yang memperhatikan keseimbangan alam. "Jangan sampai kita mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar tetapi justru dampak kerugian jiwanya juga besar," tuturnya. (son)