Fokus Digitalisasi Bisnis Mikro, BRI Bukukan Laba Rp 34,41 Triliun

    29
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Dirut BRI Sunarso menjelaskan, pertumbuhan kredit pada segmen mikro menjadi salah satu penyokong utama kinerja BRI. Hingga akhir Desember 2019 tercatat penyaluran kredit BRI mencapai Rp 908,88 Triliun atau tumbuh 8,44%, diatas rata rata industri perbankan yang tumbuh sebesar 6,08%. Demikian diungkapkan Sunarao saat paparan Laporan Keuangan Triwulan IV 2019 di Jakarta, Kamis (23/01)

    Sunarso mengatakan, salah satu faktor utama pendukung pertumbuhan kredit tersebut yakni penyaluran kredit mikro yang tumbuh double digit di angka 12,19% di sepanjang tahun 2019. Bahkan porsi kredit mikro pada BRI sebagai perusahaan induk saja telah meningkat dari 34,3% menjadi 35,8%. Hal ini sejalan dengan aspirasi BRI di tahun 2022, dimana komposisi kredit mikro mencapai 40% dari total portofolio pinjaman.

    Sebagai bank yang berkomitmen terhadap pemberdayaan segmen mikro, Sunarso menambahkan, akan terus melakukan inovasi berkelanjutan untuk mendorong penetrasi kredit mikro sehingga menjangkau lebih banyak lagi nasabah. “Melalui teknologi, kami kembangkan kredit mikro BRI menjadi go smaller, go shorter dan go faster. Melalui platform berbasis teknologi, BRI mempersiapkan ekosistem mikro berbasis digital untuk melayani potensi pasar mikro yang masih terbuka luas," imbuhnya.

    Disamping kredit mikro, jelas Sunarso, pertumbuhan kredit BRI juga ditopang oleh pertumbuhan kredit ritel dan menengah yang tumbuh 12,08% menjadi Rp 269,64 Triliun di akhir tahun 2019. Selain tumbuh positif dan diatas rata rata industri, BRI juga mampu menjaga kualitas kredit di level ideal yakni NPL 2,80% dengan NPL Coverage mencapai 153,64%.

    Pada sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), Sunarso mengungkapkan, DPK BRI berhasil menembus angka di atas Rp 1.000 triliun yakni mencapai Rp 1.021,39 triliun atau naik sebesar 8,17%. Dana murah (CASA) masih mendominasi portofolio simpanan BRI, mencapai 57,71% dari total DPK atau senilai Rp 589,46 Triliun.

    Sunarso juga menjelaskan, tahun ini BRI akan fokus menggarap CASA untuk mengoptimalkan pertumbuhan dana melalui transaction banking di perkotaan maupun melalui micro saving dan micro payment di segmen mikro.  
    Perseroan juga berhasil mengakselerasi Fee Based Income. Hingga akhir Desember 2019, perolehan FBI BRI tercatat Rp 14,29 Triliun atau tumbuh 20,1%.

    Dengan pertumbuhan FBI yang signifikan ini, kata dia, untuk pertama kalinya bagi BRI Fee Income to Total Income Ratio mencapai double digit sebesar 10%. “Melalui inovasi dan digitalisasi, perseroan terus menciptakan sumber sumber pendapatan berbasis non bunga untuk menjaga tingkat profitabilitas,” papar Sunarso.

    Salah satu inovasi produk dan layanan yang memberikan dampak secara nyata bagi pertumbuhan FBI BRI adalah Agen BRILink. Hingga akhir tahun 2019, tercatat BRI memiliki 422 ribu agen dengan transaksi mencapai 521 juta kali transaksi finansial dengan volume mencapai Rp 673 Triliun atau tumbuh 31,2%. “FBI yang dihasilkan oleh Agen BRILink tercatat mencapai Rp 788,7 Miliar atau tumbuh 75%," jelas Sunarso.

    Pada sisi permodalan, BRI mencatat rasio CAR 22,77% yang mencerminkan modal BRI cukup kuat untuk melakukan ekspansi baik dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Secara likuiditas, BRI masih mempunyai ruang tumbuh dimana rasio likuiditas BRI di akhir tahun 2019 terjaga di level 88,98%.

    Kinerja positif dan tumbuh berkelanjutan tersebut diatas mampu mengerek profitabilitas BRI. Tercatat, di sepanjang tahun 2019 perseroan mencetak laba sebesar Rp 34,41 Triliun atau tumbuh 6,15% yoy. Sementara, aset BRI tercatat Rp 1.418,95 Triliun, tumbuh 9,41% dibanding aset akhir tahun 2018 sebesar Rp 1.296,90 Triliun. (son)