KUR BNI Meningkat Menjadi Rp 17,7 Triliun

    42
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Di tengah kondisi perekonomian yang menantang, mesin bisnis BNI masih tetap tangguh di sepanjang tahun 2019. Hal tersebut ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit sebesar 8,6% yaitu dari Rp 512,78 triliun pada akhir 2018 menjadi Rp 556,77 triliun pada akhir 2019. Pertumbuhan kredit BNI tersebut masih berada di atas pertumbuhan kredit industri yaitu sebesar 6,5% hingga Oktober 2019.

    Direktur Keuangan BNI Ario Bimo, dalam konferensi pers, Rabu (22/1) mengatakan, dengan pertumbuhan kredit tersebut, BNI mencatatkan Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar Rp 36,6 triliun pada akhir tahun 2019 atau tumbuh 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 35,45 triliun. Pertumbuhan NII tersebut mampu menjaga ROE pada posisi 14% di akhir tahun 2019. Kredit BNI tersebut, jelas Ario Bimo, tersalurkan ke Segmen Kredit Kecil yang pada Desember 2019 tumbuh 14,2% menjadi Rp 75,4 triliun dari sebelumnya Rp 66,06 triliun pada Desember 2018.

    Pertumbuhan yang menonjol terjadi pada penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang meningkat dari Rp 16 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 17,7 triliun pada akhir tahun 2019. Penyaluran KUR BNI ini mendapatkan penghargaan sebagai bank penyalur KUR terbaik tahun 2019 dari Kementerian Koordinator Perekonomian.

    Guna mendukung ekspansi pada kredit kecil, papar Ario bimo, BNI meningkatkan jumlah outlet yang diberikan kewenangan untuk dapat menyalurkan kredit kecil. Sebelumnya pada tahun 2017, jumlah outlet yang dapat menyalurkan kredit kecil hanya 197 outlet, kini telah mencapai 289 outlet di seluruh Indonesia.

    BNI juga mencatat penyaluran kredit yang tumbuh ke Segmen Kredit Konsumer, yaitu sebesar 7,7% yoy diatas tahun 2018 menjadi Rp 85,87 triliun. Dimana Kredit Tanpa Agunan masih menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan kredit konsumer BNI, yaitu tumbuh 11,7% yoy menjadi Rp 2,7 triliun.

    BNI juga fokus pada penyaluran kredit pemilikan rumah atau BNI Griya karena komposisi kredit ini terhadap total Kredit Konsumer mencapai 51,4% atau mencapai Rp 44 triliun. BNI Griya tumbuh 8,3% yoy berkat berbagai perbaikan yang telah dilakukan antara lain ekspansi pada kaum milenial selaras dengan program pemerintah.

    Kredit BNI juga tersalurkan ke Segmen Kredit Korporasi yang tumbuh 9,8%. Kredit korporasi terutama disalurkan ke sektor usaha manufaktur, serta listrik, gas, dan air. Pinjaman infrastruktur masih menjadi salah satu prioritas dalam menumbuhkan pinjaman segmen bisnis korporasi ini, salah satunya adalah proyek jalan tol. Pembiayaan jalan tol yang dilakukan BNI difokuskan pada ruas-ruas tol dengan tingkat LHR yang tinggi, yaitu terutama ruas-ruas tol di Pulau Jawa.

    Pendapatan Non Bunga

    Bisnis BNI pun terus berjalan dengan dukungan pendapatan non bunga atau FBI yang tercatat sebesar Rp 11,36 triliun atau tumbuh 18,1% di atas periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 9,62 triliun. Pertumbuhan FBI ini ditopang oleh pertumbuhan recurring fee sebesar 17,7%. Sekitar 27,4% dari FBI yang terhimpun, berasal dari aktivitas bisnis internasional BNI melalui kantor-kantor BNI cabang luar negeri.

    Kenaikan FBI dikontribusi oleh pertumbuhan pada Segmen Konsumer Banking, yaitu komisi dari pengelolaan kartu debit yang tumbuh 39,6%; komisi pengelolaan rekening yang naik 16,3%, komisi ATM yang meningkat 13,2%, dan komisi bisnis kartu kredit tumbuh 10,6%. FBI juga ditopang oleh aktivitas pada Segmen Bisnis Banking yang menghasilkan komisi dari surat berharga yang tumbuh 86,9%, komisi kredit sindikasi tumbuh 56,8%, serta komisi trade finance yang meningkat 4,8%.

    Akumulasi NII dengan FBI tersebut di atas membawa BNI sukses meraup Laba Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) pada akhir tahun 2019 sebesar Rp 28,32 triliun atau tumbuh 5,0%, dan membukukan laba bersih sebesar Rp 15,38 triliun atau meningkat 2,5% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 15,02 triliun. (son)