Pengembangan EBT Dinilai Tidak Serius

    45
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dinilai tidak serius mengembangkan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Padahal ketersediaan sumber daya alam (SDA) sangat melimpah dan tak ada habis-habisnya. "EBT tidak berkembang signifikan, dari dulu segitu-segitu saja, sekitar 12,7%. ESDM dan BUMN tidak serius mengelola energi ini,” kata anggota Komisi VI DPR I Nyoman Parta  usai rapat dengar pendapat dengan Akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) Himsar Ambarita dan Soeharwinto di Ruang Komisi VI DPR, Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (23/1).

    Padahal, kata anggota Fraksi PDI Perjuangan ini, pengembangan energi panas bumi (geothermal) sudah banyak mau investasi. Begitupun dengan energi surya, mestinya bisa digarap lebih maju lagi ke depan. “Jadi jangan mengandalkan sumber energi fosil saja. Penggunaan energi fosil terlalu dimanja,” tambahnya.

    Menurut Nyoman, roadmap pengembangan EBT ke depan perlu diperjelas lagi. Sehingga investor menjadi lebih tertarik lagi. “Ini soal kebiasaan saja, ibaratnya biasa bangun jam 10.00 pagi, disuruh bangun jam 05.00, ya memang kalang kabut jadinya,” ungkapnya.

    Legislator dari Dapil Bali ini menjelaskan EBT itu sumbernya sangat banyak. Apalagi sebagai negeri beriklim tropis, Indonesia memiliki ketersediaan sinar surya yang sangat cukup. "Begitupun dengan sungai dan gunung yang mampu menghasilkan air terjun untuk Hydro power,” terangnya.

    Lebih jauh kata Nyoman, bahkan hempasan angin juga sangat cukup. Hal ini karena Indonesia merupakan negeri kepulauan dan memiliki garis pantai yang panjang. "Tak hanya itu, Indonesia juga punya sawit dan tanaman Jarak. Komoditi ini sumbernya banyak dan ramah lingkungan, sayangnya kita stagnan produksinya hanya sekitar 12 % saja,” ucapnya.

    Sementara itu Kepala Pusat IPTEK dari USU, Himsar Ambarita mengakui pengembangan EBT baru sebatas pencitraan saja, tidak lebih dari itu. Jadi belum menyentuh soal ketahanan energi. “Sekedar pelengkap saja. Padahal kita punya mimpi, BUMN serius mengembang EBT ini,” ungkapnya.

    Menurutnya, kebiasaan lama yang selalu tergantung pada energi fosil adalah sebuah beban. Padahal Sang Pencipta Alam telah menyediakan EBT, namun sayang tak mau mengolahnya. “Benar soal pengembangan EBT ini baru sebatas kosmetik saja,” tegasnya. (har)