Cegah Virus Corona, Lion Air Ubah Rute Penerbangan

    46
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Penyebaran Virus Corona yang kini menjadi perbincangan dunia, dirasakan semakin mengkhawatirkan. Sebab, virus mematikan ini telah menelan puluhan korban jiwa di Daerah asalnya, Wuhan.

    Salah satu maskapai penerbangan nasional yang memiliki rute Wuhan-Denpasar-Wuhan (WUH-DPS-WUH), Lion Air, member of Lion Air Group, memberikan keterangan resmi mengenai rute ini pascapenghentian sementara.

    Menurut Corporate Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro, pihaknya sudah melakukan prosedur yang berlaku.

    Sesuai pemberitahuan resmi otoritas setempat (notam) di Wuhan, status bandar udara saat ini hanya diperbolehkan melayani kedatangan (arrival). Namun untuk keberangkatan (departure) tidak membawa penumpang serta sebagai alternatif pendaratan kondisi darurat (emergency landing).

    Pihak Lion Air menjelaskan penerbangan Denpasar-Wuhan beroperasi 24 dan 26 Januari 2020 hanya pemulangan dengan membawa tamu atau penumpang yang masih berada di Bali. Kemudian penerbangan Wuhan-Denpasar sebagai ferry flight yaitu hanya membawa kru dan tidak melayani tamu atau penumpang.

    Dijelaskan, penerbangan DPS-WUH akan mengalami perubahan. Direncanakan menjadi rute Denpasar ke Changsa, Bandar Udara Internasional Huanghua, Hunan, Republik Rakyat Tiongkok. “Perkembangan lebih lanjut dan terbaru mengenai rute dimaksud, akan disampaikan lebih lanjut,” sebutnya.

    Sebelumnya, mengantisipasi kemungkinan masuknya wabah virus pneumonia melalui jalur penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyampaikan bahwa menindaklanjuti NOTAM G0108/20 yang diterbitkan oleh International Notam Office Beijing, maskapai Indonesia yang melakukan penerbangan dari dan ke Kota Wuhan, China untuk sementara tidak dapat dilakukan.

    Saat ini ada dua maskapai penerbangan nasional yang memiliki rute penerbangan ke Kota Wuhan yaitu Sriwijaya Air dan Lion Air.

    Himbauan Kemenhub

    Dirjen Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti menyampaikan, pihaknya akan melakukan antisipasi penyebaran virus pneumonia melalui jalur penerbangan. "Kami telah melakukan koordinasi intensif kepada seluruh maskapai penerbangan di Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran virus pneumonia masuk ke Indonesia melalui aktifitas penerbangan" jelas Polana.

    Informasi melalui NOTAM G0108/20 menyampaikan bahwa Bandar Udara Internasional Wuhan Tianhe tidak dapat digunakan sebagai bandara alternate kecuali untuk penerbangan kondisi darurat mulai 23 Januari pukul 11.00 UTC (18.00 WIB) sampai 02 Februari pukul 15.59 UTC (22.59 WIB), sehingga penerbangan dari Indonesia menuju kota Wuhan akan dialihkan ke kota lain di China.

    Polana menambahkan, pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran berisikan perintah kepada maskapai untuk melengkapi Kartu general declaration (Gendec) untuk diberikan kepada petugas karantina kesehatan dibandara kedatangan, melaporkan kepada petugas lalu lintas udara yang bertugas  (oleh PIC) apabila terdapat orang/ penumpang yang diduga terpapar karena terjangkit di pesawat udara;

    Memberikan kartu kewaspadaan kesehatan (alert card) sebelum kedatangan (untuk penerbangan yang berasal dari negara terjangkit) kepada penumpang, dan memastikan kepada penumpang untuk lapor kepada petugas apabila dirinya merasa ada kecurigaan tertular penyakit.

    Memberikan pengumuman didalam pesawat (on board) agar penumpang melaporkan kepada petugas KKP pada saat kedatangan bila berasal atau pernah singgah dinegara terjangkit.

    Selain itu, Polana memerintahkan kepada operator penerbangan untuk terus meningkatkan pengawasan di terminal kedatangan internasional dan terus melakukan koordinasi dengan seluruh stakeholder penerbangan untuk mengantisipasi menyebarnya virus pneumonia melalui jalur penerbangan.

    Dari hasil laporan, hingga saat ini belum diketemukan adanya penumpang yang terjangkit virus pneumonia yang masuk melalui bandara di seluruh Indonesia. "Kami juga menghimbau kepada seluruh stakeholder penerbangan untuk terus waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan mengantisipasi masuknya virus pneumonia melalui penerbangan karena keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan merupakan tanggung jawab kita bersama," tutup Polana. (son)