DPR Cermati Perang Baru dari Fenomena Virus Corona

    107
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Penyebaran Virus Corona (Coronavirus) yang mendunia menjadi perhatian Komisi I DPR RI. Dari sisi pertahanan dan intelejen negara, Komisi I DPR menilai ancaman Virus Corona merupakan bentuk perang baru dari negara-negara maju dan kuat yang selama ini memiliki cengkeram terhadap negara-negara di seluruh belahan dunia. Pernyataan tersebut mengemuka dalam diskusi bertema 'Efek Domino Virus Corona' di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (6/2).

    Anggota Komisi I DPR RI, Syaifullah Tamliha mengatakan pernyataan dari intelijen Israel, Mossad bahwa fenomena Virus Corona seolah-olah mengindikasikan adanya senjata biologis yang diproduksi pemerintah Cina, namun dalam prosesnya kemudian bocor dan mewabah di Kota Wuhan, perlu dicermati dan dikaji lebih jauh lagi. "Untuk mendalami ini, Komisi I sudah mengagendakan rapat dengan Badan Intelejen Negara. Rencanaya pekan depan kita akan membahas dengan BIN tentang apa sebenarnya yang terjadi dari fenomena ini. Apa benar kemunculan Virus Corona memang diciptakan," ujar Anggota DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini.

    Patut juga dicermati, pernyataan Menteri Perdagangan Amerika Serikat yang menyatakan bahwa negaranya sudah menang dalam perang dagang dengan Cina yang kemajuan ekonominya terhambat oleh masalah di internal negaranya sendiri. "Kalau benar bahwa itu adalah hasil senjata biologis buatan Cina. Atau jangan-jangan Amerika yang menebar. Kita nggak ngerti dunia intelijen. Apakah ini ada kaitannya dengan dampak dari perang dagang," ucap Tamliha.

    Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati mengakui dunia termasuk masyarakat di Indonesia telah dibuat frustasi dengan penyebaran Virus Corona. "Sudah tercatat meningga dunia 400 lebih orang  di seluruh dunia. Kita semua takut, bahkan kita takut meski sekedar berobat ke rumah sakit. Ada rasa kekhawatiran dari semua orang," paparnya.

    Untuk menghindari dampak psikologis di masyarakat, Mufidayati meminta negara hadir untuk memberi sosialisasi dan bentuk perlindungan lain kepada rakyatnya. "Ini perlu kehadiran negara untuk memberi perlindungan. Negara harus meredakan kekhawatiran. Karena tingkat kepanikan dan kekhawatiran masih tinggi di masyarakat," ucap Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini. (har)