Dirikan Industri Peternakan Sapi Terpadu, GDA Gandeng Petani Lokal

    142
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Kebutuhan susu dalam negeri selama ini lebih banyak dipenuhi dari impor. Produksi susu dari sapi perah lokal hanya mampu memenuhi kebutuhan susu sebesar 20 persen. "Berangkat dari kondisi itu, kami mendirikan Industri peternakan sapi terpadu, dari hulu sampai hilir. Artinya dari peternakan sapi perah sampai nantinya bisa dihidangkan di meja," kata Ihsan Mulia Putri, CEO PT Global Dairi Alami (PT GDA) , usai bertemu Menkop dan UKM Teten Masduki di Jakarta, Rabu (19/2).

    Putri juga menyatakan siap mendukung upaya pemerintah melakukan substitusi impor susu sapi, dimana ditargetkan produksi SSDN (Susu Segar Dalam Negeri) bisa memenuhi 40 persen kebutuhan. "Kami ikut berkontribusi dengan mendatangkan sapi Holstein sebanyak 6 ribu ekor dari Australia, yang akan diternakkan dengan standar internasional," katanya.

    GDA merupakan salah satu anak perusahaan dari Djarum Group yang memiliki lahan seluas lebih kurang lima puluh hektar (+-50 ha) yang berlokasi di Kecamatan Dawuan Desa Kalijati, Subang.

    PT GDA sendiri merupakan industri peternakan sapi terpadu yang dimana nantinya akan menghasilkan produk berupa susu segar (Fresh Milk) yang langsung diolah dan di proses dari 6000 ekor sapi perah yang kemudian diolah dan diproses melalui pabrik pengolahan susu dan dikemas dalam kemasan sehingga langsung dapat didistribusikan ke konsumen.

    Sapi holstein merupakan salah satu trah sapi perah yang  dikenal sebagai sapi yang terbanyak memproduksi susu.
    Di Indonesia sapi jenis ini dapat menghasilkan susu 20 liter/hari, tetapi rata-rata produksi 10 liter/hari atau 3.050 kg susu 1 kali masa laktasi.

    Gandeng Petani Lokal

    Putri mengatakan pihaknya dalam memasok bahan pakan khususnya jagung, dilakukan melalui kemitraan dengan para petani dalam penyediaan pakan sapi. Dari kemitraan itu, diharapkan sapi yang dikelola oleh petani itu bisa menghasilkan susu segar dalam jumlah banyak dan berkualitas tinggi. "Kerja sama yang sudah terjalin ini selalu terus dibina, sehingga pada akhirnya bisa bersama-sama pemerintah meningkatkan produksi susu segar dalam negeri yang berkualitas tinggi," ujarnya.

    Menkop dan UKM Teten Masduki menyambut baik upaya PT GDA berkontribusi dalam mengurangi impor susu sapi.  Menteri Teten menyebut ada tiga masalah yang menghambat produksi susu sapi Indonesia, yang membuat kebutuhan susu masih didominasi oleh produk impor.

    Dia mengatakan tiga masalah tersebut adalah bibit sapi yang tidak produktif, minimnya ketersediaan lahan untuk pakan, serta permodalan. Hal ini yang membuat selisih antara konsumsi dan produksi susu masih tak seimbang. 

    Teten menjelaskan guna meningkatkan produktivitas, perlu peremajaan bibit agar menghasilkan sapi yang produktif. Selain bibit, pemerintah juga membuka kans impor sperma sapi untuk mendapatkan jenis yang bagus.

    Lebih lanjut, Teten menjelaskan saat ini mayoritas peternak kecil telah memiliki koperasi sehingga semakin memudahkan untuk mendapatkan bantuan modal. “Kelembagaannya sudah bagus tinggal genjot produksi,” kata dia.

    Teten juga mengatakan masih ada ruang besar bagi peternak untuk memacu produksi lantaran konsumsi masyarakat terus bertambah. Dia juga akan menggandeng Kementerian Pertanian untuk terus mencari cara manambah pasokan komoditas pangan. "Kalau permintaannya masih tinggi, karena industri susu ini tumbuh 15% setahun,” katanya. (son)