Agar Terhindar dari Tengkulak, Begini Saran Mentan

    17
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong agar petani, khususnya petani jagung dapat memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar terhindari dari sistem ijon yang merugikan.

    Dalam kunjungannya ke Kabupaten Jeneponto, salah satu sentra produksi jagung dan padi di Sulawesi Selatan, Mentan mengatakan dengan memanfaatkan KUR, petani dapat terhindar dari tengkulak, serta praktik ijon atau pembayaran di awal berupa panjer namun dengan harga jual yang rendah. "Ada KUR pertanian sebesar Rp50 triliun. Manfaatkan itu. Kalau ada ijon atau tengkulak, saya minta Dinas pertanian koordinasi dengan Dirjen PSP, gulirkan KUR di sini," kata Syahrul melalui keterangan resmi di Jakarta, Senin (20/4).

    Dalam kunjungan tersebut, Mentan Syahrul didampingi Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar juga melakukan panen padi di Desa Kalumpangloe, Dusun Palippri, Kec. Arungkeke Kab. Jeneponto.

    Dalam sambutannya, Bupati Iksan melaporkan bahwa ada 26.000 hektare (ha) sawah di Kabupaten Jeneponto dengan produktivitas 5-6 ton per ha, dan 36.000 ha jagung dengan produktivitas 7,8 ton per ha. "Untuk komoditas jagung, sebagian petani menjual hasilnya ke daerah lain dikarenakan ada selisih harga. Kadar air jagung petani di sini mencapai 30 persen, harganya Rp1.700 per kilogram. Sementara di tempat lain, Rp1.800 per kilogram," kata Iksan.

    Menurt dia, kondisi tersebut terjadi karena petani terjebak dalam praktek ijon. Selain itu, kadar air jagung yang diinginkan para pengepul adalah 7 persen, sementara petani tidak melakukan perlakuan paska panen. Akibatnya, hasil panen langsung dijual dengan kadar air mencapai 30 persen. "Jangan perantara untungnya jauh lebih banyak dari petani. Jangan beli jagung dari petani Rp1.700, tetapi sesuai HPP. Harga beli itu Rp3.150 per kg, jangan beli di bawah HPP," kata Mentan.

    Ada pun pada 2020, Kementerian Pertanian mengalokasikan penyaluran KUR pertanian sebesar Rp50 trilliun. KUR tersebut terdiri dari sub sektor tanaman pangan sebesar Rp14,23 triliun; sektor hortikultura Rp6,39 triliun; sektor perkebunan Rp20,37 triliun dan sektor peternakan Rp9,01 triliun. (son)