Belajar dari Rumah, BPSDM Perhubungan Pertahankan Kualitas Ujian

    49
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Kementerian Perhubungan menyatakan pihaknya tidak menurunkan mutu ujian para taruna-taruni yang diwajibkan belajar dari rumah akibat COVID-19. “Kita tidak abai dengan kualitas, tetap dipertahankan tapi harus ada perubahan standar,’ kata Kepala BPSDM Perhubungan Sugihardjo dalam Pressbackground virtual yang bertajuk “Pelaksanaan Kegiatan di Lingkungan BPSDMP pada Masa Pandemi COVID-19” di Jakarta, Rabu (6/5).

    Sugihardjo menjelaskan perubahan standar itu di antaranya, ujian semester atau ujian akhir hanya berbobot 60 persen, sementara sisanya 40 persen tugas-tugas.

    Penyesuaian lainnya, yakni wisuda akan diundur, dan ada perubahan dalam kuota pendaftaran taruna-taruna dalam tahun ajaran baru. “Kita membuka 2.676 kuota. Jadi dari 3.300 akan dikurangi,” kata Soegihardjo.

    Selain itu, bagi taruna yang sedang melaksanakan praktik kerja lapangan (on job training), jika sudah berjalan 50 persen dianggap telah menyelesaikan dan diberikan tugas tambahan.

    Dalam kesempatan sama, Sekretaris BPSDM Perhubungan M Popik Montanansyah mengatakan bahwa ujian yang diberikan lebih berat bobotnya ketimbang ujian yang dilakukan di kampus. “Seperti kita ujian ‘open book’, meski buka buku tapi kan susah jawabnya,” katanya.

    Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Darat Suharto mengatakan dengan adanya pandemi ini, pihaknya menyiasati dengan memanfaatkan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar. “Kita maksimalkan penggunaan teknologi. Kami saat ini memaksimalkan teknologi, contohnya ada semacam pengukuhan seremonial dan ini sangat penting maka kita laksanakan pengukuhan secara onliine,” katanya.

    Jumlah keseluruhan taruna-taruni di BPSDM Perhubungan, di antaranya 4.022 matra darat dari enam perguruan tinggi belajar dari rumah, 9.108 matra laut dari 12 perguruan tinggi belajar dari rumah dan 3.697 matra udara dari enam perguruna tinggi belajar dari rumah dan satu akademi sebanyak 98 taruna yang melaksanakan lockdown kampus (API Banyuwangi). “Praktik terbang tidak bisa simulasi harusnya yang nyata,” kata Suharto. (son)