LPDB-KUMKM Bantu Permodalan Koperasi Terdampak Covid-19

    18
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) berupaya membantu memperkuat permodalan koperasi terdampak COVID-19.

    Direktur Pembiayaan Syariah LPDB-KUMKM Fitri Rinaldi dalam keterangannya, Selasa (5/5) mengatakan pihaknya telah melakukan penandatanganan akad pinjaman dengan Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT Al Amanah Sumedang dan KSPPS BMT Dana Ukhuwah (Lembang) sebagai koperasi yang terdampak COVID-19. “Bantuan perkuatan permodalan dari LPDB-KUMKM menjadi sesuatu yang amat ditunggu pelaku koperasi, apalagi di tengah kondisi merebaknya wabah COVID-19,” ucap Rinaldi.

    Bagi BMT Al Amanah, ini merupakan proses pencairan tahap kedua sebesar Rp1 miliar. Sebelumnya, pada Desember 2019, sudah cair dana bergulir sebesar Rp1 miliar.

    Sedangkan bagi KSPPS Dana Ukhuwah, ini pertama kali mendapat dana bergulir Rp1 miliar dari LPDB KUMKM. Tahap awal ini akan cair sebesar Rp500 juta, dan termin berikutnya sebesar Rp500 juta akan dicairkan setelah dilakukan monitoring dan evaluasi dari LPDB-KUMKM.

    Rinaldi menambahkan, di tengah wabah COVID-19 tahapan proses dana bergulir berjalan seperti biasa, dari pengajuan proposal hingga pencairan dana. Hanya saja, ada beberapa tahapan yang dilaksanakan secara jarak jauh. “Misalnya, kunjungan lapangan kami lakukan melalui video conference. Meski begitu, segala dokumen asli tetap disajikan, meski direkam dalam sarana video conference,” papar Rinaldi.

    Rinaldi berharap guliran dana pinjaman ini dapat memperkuat permodalan anggota koperasi yang bergerak di sektor produktif. “Diprioritaskan bagi anggota yang usahanya melemah karena COVID-19. Namun, ada juga anggota koperasi yang justru usahanya berkembang di tengah kondisi seperti sekarang ini,” kata Rinaldi.

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua KSPPS BMT Al Amanah Sumedang Dedi Suardi mengakui, wabah COVID-19 sangat berdampak pada anggotanya, dimana pendapatan anggota menurun tajam karena adanya aturan pembatasan sosial selama pandemi. “Semua anggota koperasi berprofesi sebagai pedagang. Tentu saja, dengan dibatasinya jam operasional pasar, maka omzet pedagang berkurang drastis dibandingkan hari-hari biasa,” kata Dedi.

    Belum lagi para anggota yang berdagang di sekitar sekolah dan perkantoran. “Mereka yang paling terpukul tidak memiliki penghasilan sama sekali karena sekolah dan kantor tutup,” ungkap Dedi.

    Saat ini, BMT Al Amanah Sumedang memiliki anggota sebanyak 31 ribu orang, yang berasal dari empat kantor cabang. Yakni, dari Sumedang, Situraja, Subang, dan Ciawi (Tasikmalaya). “Ada juga anggota kita itu UKM tahu tempe yang juga turut terdampak wabah COVID-19,” kata Dedi.

    Menurut Dedi, dengan terganggunya usaha para anggota sebagai dampak COVID-19, bepengaruh pula pada likuiditas koperasi yang berdiri pada 1995 ini. Hal ini dikarenakan adanya aksi penarikan simpanan anggota di koperasi. “Namun, dengan adanya tambahan pembiayaan dana bergulir dari LPDB-KUMKM sebesar Rp1 miliar, maka anggota tidak jadi menarik simpanannya karena mendapat dukungan pembiayaan dana bergulir,” kata Dedi.

    Ia menyebutkan, sebelumnya pada Desember 2019 sudah cair Rp1 miliar pinjaman dari LPDB-KUMKM. Jadi, total pinjaman yang terima KSPPS BMT Al Amanah berjumlah Rp2 miliar.

    Dengan tambahan permodalan itu, lanjut Dedi, anggota koperasi mendapat plafon pinjaman maksimal Rp20 juta. “Bagi KSSPS BMT Al Amanah, ini merupakan kali ketiga mendapat dana bergulir dari LPDB-KUMKM. Sebelumnya sudah mendapat pinjaman dengan masing-masing plafon Rp1 miliar pada 2017 dan Rp1,5 miliar pada 2018. Semua pinjaman sudah lunas,” kata Dedi.

    Sementara itu, Ketua KSPPS BMT Dana Ukhuwah Nindin Lestiawati mengungkapkan bahwa dana bergulir sebesar Rp500 juta diperuntukkan bagi perkuatan modal kerja anggota koperasi. “Saat ini, akan kami lebih fokuskan untuk sektor perdagangan dan pertanian. Karena menurut kami, sektor yang tidak terlalu terkena dampak COVID-19 adalah bidang pangan,” kata Nindin. Ia mengatakan jumlah anggota koperasi yang berdiri sejak 1996 itu hingga kini sudah berjumlah 1.400 orang.

    Menurut Nindin, masyarakat akan selalu membutuhkan pangan. Maka, anggota koperasinya yang bergerak di sektor pangan (perdagangan dan pertanian) akan menjadi prioritas utama. “Kami juga akan memberikan pinjaman dengan tidak memberikan beban berat bagi anggota. Sektor usaha perdagangan dan pertanian masih memiliki prospek bagus untuk kita biayai,” kata Nindin. (son)