Di Tengah Pandemi Covid-19, BRI Raih Laba Bersih Rp 8,17 Triliun

    14
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Laba bersih PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada kuartal I-2020 mencapai Rp8,17 triliun, turun tipis 0,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp8,2 triliun.

    Direktur Utama BRI Sunarso dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Kamis (14/5) mengatakan, perseroan masih mampu mencatatkan kinerja yang relatif stabil hingga akhir kuartal I-2020 di tengah pandemi COVID-19. “Di tengah kondisi yang sedemikian menantang, dengan fokus pada kesehatan aset produktif, secara konsolidasian Bank BRI mampu mencetak laba Rp8,17 triliun dengan aset mencapai Rp1.358,98 triliun hingga akhir kuartal I-2020,” ujar Sunarso.

    Sementara itu, Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menuturkan, salah satu penyebab turunnya profit bank plat merah itu adalah turunnya pendapatan dari investasi anak usaha perseroan. “Untuk konsolidasi kuartal satu kan ini tentu penyebabnya dari subsidy risk. Kenapa penyebabnya kok turun? Itu utamanya kondisi pasar sekarang ini, terutama harga-harga dari instrumen keuangan yang jadi investasi perusahaan-perusahaan anak BRI. Ada BRIlife, kemudian ada BRI Agro, dan lainnya,” ujar Haru.

    Kredit BRI sendiri pada tiga bulan pertama tahun ini sebenarnya mampu tumbuh di atas rata rata industri. Secara konsolidasian, Bank BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp930,73 triliun atau tumbuh double digit sebesar 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp845,72 triliun. Angka tersebut lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit industri sebesar 7,95 persen pada Maret 2020.

    Komposisi kredit UMKM BRI dibanding total kredit BRI pun merangkak naik dari 77,37 persen di kuartal I-2019 menjadi 78,31 persen pada kuartal I 2020. Itu merupakan salah satu bentuk upaya perseroan sebagai langkah countercyclical terhadap UMKM agar roda perekonomian terus berputar. “BRI mampu tetap tumbuh melalui selective growth dan prudent dalam menyalurkan fasilitas pinjaman. Hal ini tercermin dari pengelolaan rasio kredit bermasalah BRI, dimana pada akhir Maret 2020 NPL BRI tercatat 3 persen, jauh di bawah batas maksimal NPL yang ditetapkan regulator sebesar 5 persen,” kata Sunarso.

    Pada sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), hingga akhir kuartal I 2020 DPK BRI tercatat Rp1.029 triliun atau naik sebesar 9,93 persen (yoy). Angka itu juga masih diatas pertumbuhan DPK industri perbankan nasional pada Maret 2020 sebesar 9,54 persen. Dana murah (CASA) masih mendominasi portofolio simpanan BRI, mencapai 55,9 persen dari total DPK atau senilai Rp575,18 Triliun.

    Sementara itu, dari sisi permodalan, BRI mencatat rasio kecukupan modal (CAR) 18,56 persen di akhir kuartal I 2020. Menurut Sunarso, itu mencerminkan modal BRI cukup kuat untuk melakukan ekspansi dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.

    Di samping itu likuiditas BRI diklaim masih relatif ideal dan BRI mempunyai ruang yang cukup untuk tumbuh secara sehat dimana rasio LDR BRI di kuartal I 2020 tercatat sebesar 90,45 persen.

    Faktor lain yang menjadi penyokong kinerja BRI adalah peningkatan pendapatan berbasis komisi yang dikerek oleh peningkatan transaksi digital dampak dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan himbauan jaga jarak fisik (physical distancing). Pendapatan berbasis komisi BRI di akhir Maret 2020 tercatat sebesar Rp4,17 Triliun atau tumbuh 32,91 persen.

    Disamping terus menyalurkan pinjaman kepada UMKM, perseroan mengambil upaya strategis dalam kaitannya penyelamatan dan perlindungan UMKM terdampak COVID-19. Upaya upaya tersebut di antaranya dengan melakukan restrukturisasi kredit UMKM.

    Hingga akhir April 2020 perseroan tercatat telah memberikan relaksasi berupa restrukturisasi pinjaman kepada lebih dari 1,4 juta UMKM yang terdampak COVID-19 dengan total pinjaman mencapai Rp101 triliun.

    Selain itu Bank BRI juga telah membuat skema pinjaman baru untuk UMKM, seperti diantaranya BRI berkolaborasi dengan Gojek dan Grab dengan menciptakan skema pinjaman khusus bagi pengendara ojek daring yang merupakan pelaku usaha informal. Dengan pinjaman antara Rp 5 juta – Rp 20 juta, BRI menargetkan 250.000 pengendara ojek online mendapatkan fasilitas pembiayaan tersebut. “Ini juga sesuai dengan arahan Presiden bahwa diperlukan sebuah terobosan yang inklusif agar pelaku UMKM terdampak langsung mendapatkan manfaatnya,” ujar Sunarso.

    BRI juga telah menyalurkan bantuan sosial tunai (BST) tahap pertama sebesar Rp316 miliar bagi masyarakat, termasuk UMKM terdampak COVID-19, membagikan sejuta masker gratis kepada pedagang pasar dengan tujuan agar pedagang pasar tetap dapat melakukan aktivitas ekonomi dengan protokol kesehatan yang memadai, konsultasi dan pendampingan bisnis UMKM oleh 38 ribu Relationship Manager (RM) di seluruh Indonesia serta pelatihan online / kelas virtual oleh RKB BRI bagi UMKM. “Ke depan, Bank BRI akan berupaya mempertahankan kinerja dengan menjaga kualitas aset serta terus menciptakan inisiatif inisiatif baru dalam kaitannya memberikan perlindungan dan penyelamatan UMKM di Indonesia,” ujar Sunarso. (son)