Pengamat Pertanyakan Keharusan Taksi Gunakan Pertisi

    19
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Akademisi Transportasi yang juga Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Djoko Setijowarno mengingatkan agar semua pihak termasuk Kementerian Perhubungan perlu mencermati mengkaji terhadap wacana agar Taksi atau Kendaraan Online semisal GrabCar dan GoCar menggunakan partisi (alat penghalang sejenis plastik) antara pengemudi dan penumpang demi mencegah penularan Covid-19.

    Dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (5/6), Djoko mengatakan, pencegahan dapat dilakukan dengan mencuci tangan pakai sabun, jaga jarak aman dan selalu menggunakan masker. Oleh karena itu, semua pihak bagaimana pun harus membuka ruang dialog terhadap hal ini. “Mungkin akan menambah pekerjaan baru atau menambah beban operasioanl pihak operator. Tapi sebaiknya semua pihak tetap membuka diri untuk mencari solusi terbaik,” katanya.

    Ia mendukung upaya yang dapat dilakukan oleh operator transportasi antara lain melakukan modifikasi yang dianggap tidak memberatkan. “Saya mendengar tempat duduk kereta api jarak jauh akan ditambah penghalang semisal penyekat yang selain memberi aman dan nyaman kepada penumpang, tapi itu bisa dilakukan,” jelas Djoko.

    Djoko mengaku mendapat informasi bahwa nantinya di kereta api semua penumpang akan diberikan plastik penutup muka (face shield) yang nanti akan dipakaikan ke setiap penumpang yang naik kereta api. “Nanti di tempat tujuan, alat itu akan dicuci pakai air panas supaya steril agar aman dipakai penumpang berikutnya,” ungkap Djoko.

    Untuk itu, Djoko menyarankan agar Kementerian Perhubungan berkonsultasi dengan Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid -19 selaku pemegang kendali pencegahan penyebaran Covid-19, mungkin dengan mendatangkan ahli atau dokter atau ahli riset yang punya kompetensi dalam hal ini. “Bisa dicontoh salah satu subsektor yang dalam pembahasan soal ini selalu mendatangkan ahli kesehatan dari Kementerian Kesehatan,” papar Djoko.

    Djoko menambahkan, dialog merupakan solusi terbaik untuk antisipasi dampak Corona ke depan. “Bagaimana pun antisipasi harus dilakukan, sebab bisa saja pandemi ini lebih lama dari yang diperkirakan,” papar dia. (son)