Sensasi Pedas Nasi Tempong, Bikin Ketagihan

    23
    BANYUWANGI (Bisnisjakarta)-
    Buat yang selalu kangen dengan rasa pedas, sesekali cobalah Nasi Tempong. Meski sekilas tak ada yang tampak istimewa dari kuliner asli Banyuwangi itu namun tak ada salahnya mencoba, ditanggung bisa ketagihan “ditampar” pedasnya nasi tempong.

    Kesederhaan Nasi Tempong tidak menghalangi kelezatannya. Dengan isian yang seolah biasa mulai dari nasi putih, dilengkapi dengan potongan tempe, tahu, dan ikan asin, semakin bikin kangen saat ditambahkan lalapan berupa sayuran rebus mulai dari kol, bayam, juga terung.

    Satu hal lain yang membuat menu ini menjadi istimewa adalah sambalnya. Pedasnya cabai rawit, menyatu dengan kesegaran tomat ranti dengan aroma terasi khas Banyuwangi menghadirkan sensasi yang sulit dilupakan.

    Semuanya diulek menjadi sambil dadak sehingga kesegerannya sangat terasa, membuat siapapun serasa “tertampar” akan kesegaran dan rasa pedas dari sambal Nasi Tempong.

    Hal itu pula yang menjadi latar penyebutan Nasi Tempong. Yakni yang dalam bahasa Osing, bahasa daerah Banyuwangi, “tempong” berarti “tampar”.

    Tak usah khawatir untuk mencicipi sebab kini deretan penjual Nasi Tempong di Banyuwangi sudah mulai beroperasi kembali dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

    Nasi putih hangat dengan potongan tahu dan tempe serta ikan asin yang garing, terasa sangat nikmat dengan rasa sambalnya yang pedas-asam nan segar. Belum lagi dengan sayuran rebusnya yang masih garing dan manis.

    Jangan lewatkan menu lainnya seperti udang goreng tepung, juga paru goreng serta nus (cumi) hitam. Renyah dari tepungnya menyelimuti rasa udangnya yang manis. Begitu juga dengan paru goreng, garing di luar namun lembut di dalam.

    Kekenyalan dari nus (cumi) hitam juga terasa segar, apalagi dengan kuahnya kala diaduk dengan nasi dan sambal. Sedap tak terkira. Untuk yang tidak terlalu suka pedas, pengunjung bisa minta dibuatkan dengan rasa pedas yang tak terlalu “menampar”.

    Dibuat “Dadakan”

    Towi, selaku pengelola rumah makan Sego Tempong Mbok Wah mengatakan, awalnya menu ini menjadi andalan masyarakat Banyuwangi untuk bekal mereka ke sawah.

    Namun seiring waktu dengan rasanya yang khas dan semakin terbukanya Banyuwangi sebagai destinasi wisata, membuat masakan ini jadi banyak diburu wisatawan. Karena itu kemudian banyak disajikan menu-menu pendukung lainnya. “Tapi kuncinya semuanya harus selalu segar, bahan-bahannya segar. Makanya kita harus selalu baru, kalau diinapkan rasanya sudah berubah. Kita sesuaikan dengan pengunjung yang datang,” kata Towi.

    Dalam satu hari, Towi mengatakan, warung yang dikelolanya ini bisa menghabiskan lima kilogram cabai rawit untuk sambal. Namun sejak pandemi COVID-19, jumlahnya tidak seperti biasanya karena jumlah pengunjung yang menurun drastis. Bahkan ia harus menutup usahanya dalam waktu yang cukup lama.

    Namun dengan penanganan COVID-19 di Banyuwangi, ia bersyukur karena sudah mulai kembali membuka kembali usahanya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dikatakannya juga melakukan pendampingan dan pengawasan dengan ketat. “Semua karyawan yang masuk dipastikan kesehatannya, dengan cek suhu tubuh dan menggunakan masker dan pelindung wajah. Tempat cuci tangan dan hand sanitizer juga kami siapkan di setiap area rumah makan,” kata Towi. (son)