Spiritual Praying, Cara Kerja Jurnalistik di Era New Normal

    21
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Pandemi Virus Corona telah menimbulkan ketakutan bagi semua orang, lantaran belum ditemukannya vaksin yang dapat menyembuhkan penyakit yang mewabah secara global ini. Solusi sementara adalah masyarakat tak terkecuali kalangan jurnalis diminta untuk menjalankan protokol kesehatan sebagaimana himbauan pemerintah untuk menyongsong New Normal.

    Tetapi agaknya, semua aktivitas yang berhubungan dengan kerja jurnalistik sulit mengaplikasikan secara penuh protokol kesehatan sebagai implementasi kaedah New Normal. Hal ini terungkap dari PWI Jaya Webinar Series bertajuk New Media pada Era Pandemi dan Jurnalistik Era New Normal yang digelar di Jakarta, Rabu (8/7).

    Webinar nampilkan dua tokoh pers yaitu Wakabid Organisasi PWI Jaya dan mantan Penanggung Jawab Antara TV Irmanto, Ketua SJI/Redaktur Harian Terbit dan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bahasa Universitas Bina Sarana Informatika Romi Syahril dengan moderator wartawan senior Suara Merdeka Budi Nugroho serta Host Ary Julianto, keduanya anggota PWI Jaya.

    Romi menilai, setiap orang pasti berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang mana mendefinisikan New Normal. Pola kerja yang baru, atau keadaan dan gaya hidup baru. Sejatinya, pola penulisan jurnalistik maupun kode etik tidak boleh berubah, justru yang berubah hanya pola peliputan wartawan.
     
    Ia tak yakin semua perusahan pers di era pandemi ini bisa menerapkan semua protokol kesehatan, seperti menyiapkan masker, hand sanitizer, jaga jarak, dll. Kondisi finansial perusahaan pers yang sudah sulit menjadi alasan bahwa jurnalis dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya harus waspada.

    Oleh karena itu, Romi menawarkan opsi kepada jurnalis dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya antara lain Spiritual Praying. Artinya, tetap semangat dan berdoa melakukan kegitan jurnalistik. Ini diperlukan sebagai awal dalam memulai kerja. “Ibarat berada di jalan raya, ketika kita sudah berhati-hati dalam berkendara ternyata orang lain yang ceroboh. Akibatnya, terjadi kecelakaan. Itulah pentingnya kita berdoa agar selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT,” pesan Romi.

    Kemudian perlu implementasi Physical Distancing/Face Distancing. Artinya, tetap jaga jarak tubuh maupun wajah dengan orang lain, termasuk dengan narasumber. Hindari dahulu wawancara tatap muka, kecuali urgent yang terpaksa. “Maksimalkan perangkat penunjang kegiatan tugas jurnalistik dengan wawancara lewat telepon, WA ataupun lainnya,” kata dia.
     
    Selaain itu, perlu melakukan Social Connecting. Artinya, tetap melakukan koordinasi dengan teman kantor dalam menunjang tugas jurnalistik. Terutama dengan reporter, redaktur, redpel, pemred maupun lay out. Begitu juga harus menjaga hubungan baik dengan narasumber.

    Terakhir, Digital Applying. Artinya, manfaatkan aplikasi digital dalam menunjang tugas peliputan dalam menggali berita yang diperlukan. Maksimalkan wawancara teleconfrence lewat zoom, google meet, hangouts, WA, Instagram dan lainnya. Apalagi, di era pandemi sekarang layanan aplikasi digital paling populer bagi kerja dunia jurnalis. “Nah, empat faktor ini yang memudahkan kerja jurnalistik di era New Normal,” kata Romi.

    Sementara Irmanto menyebut, era Pandemi Covid-19 telah mengangkat popularitas sejumlah media sosial atau new media, seperti Facebook, Instagram, dan Youtube, dll. “Era pandemi covid-19 dan PSBB ini, penggunaan media sosial meningkat signifikan,” jelas Irmanto.

    New media itu sendiri, kata Irmanto, merupakan terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara teknologi komunikasi digital yg terkomputerisasi dan terhubung dalam jaringan.

    Secara sederhana, jelas Irmanto, new media tercipta akibat ada interaksi masyarakat dengan komputer atau smartphone dan internet.

    Muara itu semua adalah terjadinya pertukaran informasi. Selain juga dimanfaatkan sebagai media hiburan, media sharing, dan media sosialisasi. (son)