AP II Tingkatkan Efisiensi Penerbangan, Begini Caranya

    25
    TANGERANG (Bisnisjakarta)-
    Airport Collaborative Decision Making (A-CDM) dinilai sangat penting untuk segera diterapkan secara penuh di Indonesia untuk efisiensi dan efektifitas sektor penerbangan nasional. Hal ini disampaikan oleh para stakeholder penerbangan nasional di dalam webinar Center for Strategic and Aviation Studies (CSAS) bertajuk Airport Collaborative Decision Making: Challenge and Opportunities yang digelar di Jakarta, Jumat (10/7).

    Webinar tersebut menghadirkan pembicara dari berbagai stakeholder antara lain President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, ICAO Senior Expert Vic Van Der Westhuizen, VP Operational Planning & Control Garuda Indonesia Capt. Fanny Kawulusan dan VP ANS Data & Evaluation AirNav Indonesia Roy Johanis, serta dimoderatori oleh Atase Perhubungan Indonesia di Kanada / Alternate Representative of the Republic of Indonesia to ICAO Dr. Afan Sena.

    Awaluddin mengatakan penerapan A-CDM memang tidak mudah namun dapat dilakukan dengan kolaborasi di antara stakeholder. “PT Angkasa Pura II saat ini tengah dalam proses menerapkan A-CDM secara penuh di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sebelum nantinya diterapkan di bandara-bandara lainnya,” kata Awaluddin.

    Ada 13 tahapan untuk menerapkan A-CDM secara penuh, mulai dari pembentukan organisasi, menetapkan target, hingga memastikan keberlanjutan ketika nanti sudah diimplementasikan. Sejumlah tahapan-tahapan itu sudah kami selesaikan. “Terpenting adalah kolaborasi di antara stakeholder, tidak bisa lagi hanya menjadi konsep bagi operator bandara, maskapai, air navigation,” ujar Awaluddin.

    Penuhi 3 Objektif

    Adapun saat ini Soekarno-Hatta sebetulnya telah menerapkan A-CDM namun belum secara penuh..Penerapan penuh A-CDM di bandara bertujuan untuk mencapai sebanyak 9 objektif. Saat ini, Soekarno-Hatta bersama dengan stakeholder antara lain AirNav Indonesia berupaya untuk mencapai 3 objektif yaitu meningkatkan prediktabilitas penerbangan, meningkatkan on time performance (OTP), dan menurunkan tingkat slot yang mubazir/tidak digunakan.

    Sementara itu, VP Operational Planning & Control Garuda Indonesia Capt. Fanny Kawulusan mengatakan kunci utama penerapan A-CDM adalah mengoptimalkan sumber daya dan fasilitas yang ada di bandara.

    Capt. Fanny Kawulusan menuturkan implementasi A-CDM dapat menghasilkan berbagai peningkatan pelayanan mulai dari lebih singkatnya waktu taxi bagi pesawat, antrean yang lebih pendek untuk take off, menghemat bahan bakar, menurunkan kongesti di apron dan taxiway, hingga waktu yang lebih hemat dalam menggunakan gate untuk persiapan keberangkatan atau kedatangan.

    Di dalam platform A-CDM, seluruh stakeholder penerbangan seperti operator bandara, maskapai, air navigation dan ground handling akan saling berbagai seluruh informasi dan data sehingga operasional setiap penerbangan dapat direncanakan dengan baik.

    VP ANS Data & Evaluation AirNav Indonesia Roy Johanis di dalam webinar menuturkan implementasi A-CDM melengkapi sistem Air Traffic Flow Management (ATFM) yang kini sudah diterapkan. “Fase dari ATFM adalah take off sampai landing, sementara Fase dari A-CDM lebih ke arah pergerakan di airport,” ujar Roy Johanis.

    Adapun implementasi ATFM dan A-CDM dapat meningkatkan aspek keselamatan dan efisiensi di sektor lalu lintas penerbangan nasional yang diprediksi ke depannya berada di 5 besar dunia. (son)