MOGOK KERJA - Suasana tidak adanya aktivitas bongkar muat di terminal peti kemas Koja milik PT Jakarta International Container Terminal (JICT) selama aksi mogok kerja yang dilakukan serikat pekerja JICT di Jakarta. (foto:Antara)

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mengatakan surplusnya neraca perdagangan Indonesia selama periode Januari-September 2020 memberikan sinyal positif terhadap kinerja perdagangan dan pemulihan ekonomi nasional.

Mendag Agus menyebutkan bahwa secara kumulatif neraca perdagangan periode Januari-September 2020 tercatat mengalami surplus sebesar 13,5 miliar dolar AS.

“Pengaruhnya sangat besar karena surplus ini membawa sinyal positif. Tren ekspor kita pertahankan walaupun di tengah pandemi,” kata Mendag Agus dalam diskusi virtual yang diselenggarakan BNPB, Senin.

Mendag memaparkan bahwa kinerja perdagangan kumulatif Januari–September 2020 ini melampaui surplus neraca perdagangan tahun 2017 yang sebesar 11,84 miliar dolar AS serta merupakan capaian surplus tertinggi sejak 2012.

Sejumlah komoditas, terutama ekspor nonmigas yang mengalami kenaikan pada September 2020 yakni besi dan baja, lemak dan minyak hewan nabati, kendaraan dan suku cadang, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang plastik.

Kelima produk tersebut memiliki kontribusi pangsa ekspor sebesar 34,02 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada September 2020. Ada pun peningkatan ekspor baja ini disebabkan meningkatnya permintaan produk dari China dan Malaysia, seiring dengan pulihnya kegiatan industri di dalam negeri tersebut.

“Sementara peningkatan nilai ekspor juga dipengaruhi oleh naiknya harga CPO di pasar internasional, dan naiknya permintaan CPO dari China dan India,” kata Agus.

Ia menambahkan bahwa pemulihan ekonomi yang dilihat salah satunya berdasarkan neraca perdagangan, memberikan motivasi bagi pelaku UMKM di dalam negeri untuk meningkatkan ekspor mereka. (ant)