Harga Makanan dan Biaya Pendidikan Pengaruhi Inflasi Juli

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga makanan jadi dan biaya pendidikan menjadi penyebab utama terjadinya laju inflasi pada Juli 2017 sebesar 0,22 persen. “Inflasi Juli lebih dipengaruhi oleh inflasi inti, yaitu kenaikan harga makanan jadi dan biaya pendidikan,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa.
Suhariyanto mengatakan komponen inflasi inti dalam periode ini menyumbang inflasi 0,26 persen, diikuti harga bergejolak (volatile food) 0,17 persen dan harga diatur pemerintah (administered prices) 0,07 persen.
“Pengaruh administered prices sudah tidak ada lagi, karena tidak ada lagi penyesuaian harga tarif dasar listrik yang terakhir dirasakan pada Juni. Untuk ‘volatile food’ juga bergejolak tipis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dari kelompok pengeluaran, inflasi terbesar pada Juli 2017 terjadi di kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga yaitu 0,62 persen, karena adanya tahun ajaran baru.
“Inflasi terjadi karena adanya tahun ajaran baru, terutama dipengaruhi oleh uang sekolah SD, uang sekolah SMA dan tarif bimbingan belajar yang menyumbang inflasi masing-masing 0,01 persen,” tutur Suhariyanto.
Inflasi lainnya dipengaruhi kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,57 persen, karena ada kenaikan harga komoditas seperti mi, nasi dengan lauk, kopi manis dan rokok kretek filter.
Kelompok bahan makanan ikut menyumbang inflasi sebesar 0,21 persen karena beberapa komoditas masih mengalami kenaikan harga seperti ikan segar, telur ayam ras, tomat sayur, bawang merah, kacang panjang dan jeruk.
“Meski demikian, terdapat komoditas yang menyumbang deflasi seperti bawang putih sebesar 0,07 persen, daging ayam ras 0,02 persen serta beras dan cabai merah masing-masing 0,01 persen,” tambah Suhariyanto.
Kelompok lainnya yang turut menyumbang inflasi adalah kelompok kesehatan sebesar 0,15 persen serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar dan kelompok sandang masing-masing sebesar 0,06 persen.
Namun, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada periode ini menyumbang deflasi dan menekan inflasi yaitu sebesar 0,08 persen.  “Deflasi terjadi karena turunnya tarif angkutan antar kota dan kereta api pasca lebaran. Namun, tarif angkutan udara masih menyumbang inflasi 0,04 persen,” kata Suhariyanto.
Dengan inflasi Juli 2017 tercatat sebesar 0,22 persen, maka tingkat inflasi tahun kalender Januari-Juli 2017 tercatat mencapai 2,6 persen dan inflasi dari tahun ke tahun (yoy) sebesar 3,88 persen. Dari 82 kota IHK, sebanyak 59 kota mengalami inflasi dan 23 kota menyumbang deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Bau-Bau sebesar 2,44 persen dan terendah di Meulaboh sebesar 0,01 persen.
Sementara itu, deflasi tertinggi pada periode ini terjadi di Merauke sebesar 1,5 persen dan terendah di Metro dan Probolinggo masing-masing sebesar 0,07 persen.  (grd/ant)