Rasio Gini Diharapkan Capai 0,37

Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Prof., S.E., M.U.P., Ph.D.

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengharapkan rasio gini untuk mengukur tingkat ketimpangan bisa mencapai 0,37 pada 2019. “Pokoknya kami upayakan dulu tahun depan bisa 0,38 sesuai yang kami sampaikan di RKP. Kalau program-program tepat sasaran, penguatan PKH (Program Keluarga Harapan) itu berjalan, kami harapkan pada 2019 bisa turun lagi, mungkin tidak ke 0,36 tapi 0,37,” kata Bambang di sela-sela acara Indonesia Development Forum di Jakarta, Rabu.

Bambang menuturkan, pengurangan ketimpangan merupakan fokus pembangunan yang perlu ditangani secara komprehensif. Sesuai dengan arahan Presiden, pemerintah harus fokus untuk mengurangi ketimpangan, antar kelompok pendapatan dan antar wilayah. Hal ini telah tertera dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Pada 2019, tingkat kemiskinan diharapkan dapat turun menjadi 7-8 persen dari angka baseline 11,22 persen di 2015. Demikian pula, angka ketimpangan diupayakan untuk menurun dari 0,408 di 2015 menjadi 0,36 pada akhir RPJMN.
“Menurunkan 0,1 itu bukan hal yang mudah, tapi kita akan berupaya. Jadi ada penurunan yang cukup signifikan dibandingkan ketika kita baru masuk di pemerintahan,” kata Bambang.

Menurut Bambang, dalam mengurangi ketimpangan, tidak bisa hanya bergantung pada program pemerintah. Apalagi, intervensi dalam bentuk bantuan sosial sifatnya terbatas dan tidak berkelanjutan. “Kami ingin masalah ketimpangan ini selesainya berkesinambungan, kalau sudah ada perbaikan, jangan sampai dia jatuh lagi,” ujar Bambang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, terkait perubahan Rasio Gini dari 2016 ke 2017, porsi pengeluaran kelompok menengah (40 persen) naik sebesar 0,38 persen, sedangkan kelompok atas (20 persen) justru turun 0,48 persen, sementara itu kelompok bawah (40 persen) naik namun hanya 0,1 persen.

Pemerintah sendiri akan lebih agresif dalam mengurangi ketimpangan yakni dengan fokus menyasar 40 persen masyarakat kelompok berpendapatan terbawah yang dinilai belum terlalu terdorong oleh berbagai program atau kegiatan yang sudah dibuat oleh pemerintah selama ini.

“Kami fokus ke 40 persen terbawah tadi, selain diintervensi dari pemerintah baik dengan bantuan langsung maupun infrastruktur dasar, untuk bawa mereka lebih ke atas lagi mau tidak mau adalah dengan kesempatan kerja yang harus didukung oleh kebijakan-kebijakan. Sebagian yang tidak bekerja kita dorong jadi wirausaha,” kata Bambang. (grd/ant)