Masuki Peredaran Hewan Kurban, Depok Antisipasi Antraks

Kota Depok gandeng Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia (UI), untuk memberikan pelatihan ke puluhan peternak terkait penyakit menular hewan.

DEPOK – Untuk mencegah penyakit zoonotik khususnya antraks di Kota Depok, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Depok mengantisipasi dengan menggandeng Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia (UI), untuk memberikan pelatihan kepada 48 peternak terkait kesehatan hewan kurban.

Hal ini juga dilakukan untuk mengawasi peredaran daging menjelang Idul adha pada September mendatang. Selain peternak, pelatihan juga melibatkan beberapa peserta dari kalangan penjual, pemotong hewan kurban dan kader di Kecamatan Bojongsari. “Program ini merupakan lanjutan dan perluasan dari program sebelumnya yang di Kecamatan Sawangan 2014 lalu untuk mengetahui tanda hewan yang terjangkit antraks,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskeswan, Aresa Setiawati, di Aula Kecamatan Bojongsari, Rabu (02/08).

Sementara itu, Ketua Pelaksana FKM UI, Evi Martha mengatakan, berdasarkan laporan Sub Direktorat Zoonosis, Direktorat Pengendalian Penyakit, penularan yang bersumber dari binatang selama periode tahun 2002 hingga 2007, kasus penyakit antraks pada manusia di Indonesia mencapai 348 orang, dengan angka Case Fatality Rate (CFR) sebesar 7,2 persen. “Salah satu provinsi yang merupakan daerah endemis antraks yaitu Provinsi Jawa Barat, di antaranya Kabupaten Bogor, Bekasi, Purwakarta, Subang, Karawang, Kota Bogor, Bekasi dan kota-kota lainnya,” jelasnya.

Selain itu, untuk mencegah adanya penyakit zoonotis yang masuk ke manusia dari tubuh hewan. Meminta petugas memakai pelindung diri saat bersentuhan dengan hewan. Sebab banyak faktor yang mempengaruhi manusia rentan terhadap penyakit zoonotis. “Dari hasil observasi tahun 2014, ditemukan masih banyak petugas yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) ketika proses penyembelihan,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskeswan, Aresa Setiawati, di Balaikota.

Selain itu, pengelolaan limbah pemotongan (darah), serta kebersihan diri dengan mencuci tangan pakai sabun juga harus jadi perhatian petugas. Sebab, kelalaian itu bisa menjadi faktor mengapa penyakit antraks bisa menular dari satu manusia ke manusia lainnya.

“Upaya pencegahan dilakukan dalam bentuk pengawasan terhadap penjaminan keamanan dan kelayakan daging. Tetapi, untuk upaya pengawasan ke peternak dan penjual, melalui pelatihan pencegahan penyakit dari hewan ke manusia, belum memiliki cakupan materi yang luas,” ucapnya.(jif)