NEW YORK (Bisnis Jakarta) – Saham-saham di Wall Street berakhir lebih tinggi pada Rabu (Kamis pagi WIB), karena para investor terutama mempertimbangkan risalah dari pertemuan terakhir Federal Reserve pada Juli.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 25,88 poin atau 0,12 persen menjadi ditutup pada 22.024,87 poin. Indeks S&P 500 menguat 3,50 poin atau 0,14 persen menjadi berakhir di 2.468,11 poin. Indeks Komposit Nasdaq naik 12,10 poin atau 0,19 persen menjadi berakhir di 6.345,11 poin.

Risalah dari pertemuan Fed pada Juli menunjukkan perdebatan tentang kapan harus menaikkan suku bunga. Beberapa peserta menyatakan “kekhawatiran tentang penurunan inflasi baru-baru ini” dan mengatakan Fed “dapat sabar dalam situasi saat ini.” Namun, anggota-anggota “hawkish” lainnya “khawatir dengan risiko yang timbul dari pasar tenaga kerja yang telah mencapai lapangan kerja penuh dan diproyeksikan akan mengetat lebih lanjut.” Ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga pada Desember turun menjadi 40,4 persen, menurut alat FedWatch CME Group terbaru.

“Staf memperingatkan tentang harga-harga aset adalah hawkish, tapi dovish yang dibawa hari ini pada Juli. Tidak menaikkan suku bunga lagi sampai ada bukti inflasi naik menuju 2,0 persen adalah jelas-jelas bersifat ‘dovish’. Mempertanyakan kerangka inflasi Fed adalah dovish. Mendorong mundur terhadap mereka yang khawatir inflasi mendadak melonjak jika ekonomi lepas landas adalah dovish. Dovish kali ini menang,” kata Chris Low, kepala ekonom FTN Financial, pada Rabu (16/8).

Sementara itu, para pejabat Fed sepakat untuk segera memulai proses pengurangan kepemilikan bank sentral atas surat-surat berharga, menurut risalah. Wall Street secara luas memperkirakan bank sentral akan mulai memangkas neracanya yang mencapai lebih dari 4,5 triliun dolar AS pada September.

Di bidang ekonomi, housing starts (rumah yang baru dibangun) yang dimiliki secara pribadi di AS pada Juli berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 1,155 juta unit, lebih lemah dari perkiraan, Departemen Perdagangan melaporkan pada Rabu (16/8). Angka tersebut, 4,8 persen di bawah perkiraan Juni yang direvisi dan 5,6 persen di bawah tingkat Juli 2016. (grd/ant)