Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Prof., S.E., M.U.P., Ph.D.

Jakarta, 21/8 (Bisnis Jakarta) – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro memandang India dan Vietnam sebagai contoh relevan negara yang dianggap sukses mendorong jaringan diaspora menjadi motor kebangkitan ekonomi.

“Diaspora yang diundang menjadi investor membawa perubahan pada ekonomi domestik. Saya harap suatu saat diaspora Indonesia punya catatan sejarah seperti India dan Vietnam,” kata Bambang dalam acara Indonesian Diaspora Global Summit 2017 di Jakarta, Senin.

Ia menilai pemerintahan di India dan Vietnam pada suatu masa mampu memanfaatkan peran diaspora, atau warga negara yang menetap di luar negeri, dalam pembangunan ekonomi khususnya ketika ekonomi negara mengalami kebangkitan.

Di India, Perdana Menteri periode 2004-2014 Manmohan Singh dinilai mampu memanfaatkan jaringan diaspora untuk mengatasi pertumbuhan ekonomi India yang stagnan karena terpaku pada kebijakan sosialis.

“China menggunakan BUMN sebagai motor pembangunan, sedangkan India menggunakan jaringan diaspora, seperti para pengusaha baja dan teknologi informasi yang kemudian menjadi perusahaan multinasional, untuk berkontribusi bagi ekonomi di India,” ucap Bambang.

Kemudian, Bambang juga menyebutkan Vietnam sebagai contoh sukses negara yang memanfaatkan jaringan diaspora untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Ketika China membuka diri dan Uni Soviet pecah, Vietnam mulai membuka ekonomi dari sentralistik menjadi berbasis ekonomi pasar. Mereka memberi kesempatan orang-orang yang lari dari Saigon dan sudah jadi pengusaha sukses,” kata dia.

Bambang menilai Vietnam saat ini mampu menjadi sentral ekonomi baru yang perlu diperhitungkan di Asia Tenggara karena pertumbuhannya di sektor infrastruktur, industri, dan pertanian.

“Vietnam adalah pesaing kita. Diaspora yang diundang telah menjadi investor dan membawa perubahan pada ekonomi domestik,” ucap dia.

Oleh karena itu, Bambang mengajak diaspora Indonesia untuk membantu pembangunan perekonomian agar Indonesia mampu terbebas dari situasi jebakan kelas menengah dan beralih menjadi negara maju.

“Indonesia saat ini sudah jauh masuk ke mekanisme pasar, tetapi yang kurang adalah belum menjadi negara maju,” kata dia. (Antara)