Wall Street (Jalan Wall) adalah sebuah nama jalan di pinggiran kota Manhattan di New York yang membujur mulai dari timur yaitu dari Broadway menuruni lembah ke arah South Street di East River, melewati pusat historis dari distrik keuangan Amerika yaitu Manhattan. Wall Street adalah gedung permanen pertama dari New York Stock Exchange, dan sepanjang waktu Wall Street menjadi nama dari gegografi sekitarnya.

New York, 22/8 (Bisnis Jakarta) – Saham-saham di Wall Street ditutup bervariasi pada Senin (Selasa pagi WIB), karena para investor mengamati dengan seksama masalah-masalah geopolitik terbaru.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 29,24 poin atau 0,13 persen menjadi berakhir di 21.703,75 poin, dan indeks S&P 500 ditutup naik 2,82 poin atau 0,12 persen menjadi 2.428,37 poin.

Sementara itu, indeks Komposit Nasdaq turun 3,40 poin atau 0,05 persen menjadi ditutup pada 6.213,13 poin.

Tanpa data penting yang dirilis pada Senin (21/8), Wall Street sedang menunggu pidato Presiden AS Donald Trump yang diawasi secara cermat pada Senin (21/8) malam waktu setempat mengenai strategi AS untuk perang di Afghanistan.

Selain itu, para investor juga terus mengawasi perkembangan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK).

Pasar berada di bawah tekanan di tengah ketidakpastian politik di Gedung Putih.

Trump mengumumkan awal bulan ini bahwa dia membubarkan dua lembaga Dewan Manufaktur serta Forum Strategi dan Kebijakan, karena para pemimpin bisnis mengundurkan diri dari dewan tersebut atas ucapan Trump tentang kekerasan Charlottesville.

Juga dilaporkan pada Jumat (18/8) bahwa Trump telah menyingkirkan Steve Bannon sebagai ahli strategi utamanya.

Para analis mengatakan gejolak baru-baru ini di Washington memicu kekhawatiran pasar tentang apakah pemerintahan Trump mampu mendorong agenda ekonominya.

Selain itu, harapan untuk kebijakan moneter yang ketat di AS telah diperlemah baru-baru ini oleh data inflasi yang lembut. Ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga pada Desember hanya 41 persen, menurut alat FedWatch CME Group. (Antara/Xinhua)