JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Untuk mempermudah mobilitas masyarakat, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ‎mendorong agar pengembang Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT) termasuk operator KRL Jabodetabek yaitu PT KCJ untuk mengembngkan konsep hunian Transit Oriented Development (TOD) pada lingkungan sekitar stasiun.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan TOD, itu adalah konsep yang sudah dikembangkan di negara maju untuk mengkreasi titik-titik dari terminal dan sebagainya untuk dijadikan satu tempat bermanfaat untuk fungsi produktifitas, intensifitas dari ruang itu. ‎Dan disis lain bisa memberikan solusi bagi berkurangnya pergerakan dari titik satu tempat ke tempat lain dan juga memberikan manfaat komersial dan tempat tinggal masyarakat.

“Karenanya saya meminta kepada management PT MRT Jakarta untuk melakukan kajian dan disain engineering untuk pembangunan TOD di sekitar Fatmawati dan di sekitar stasiun MRT lainnya. Supaya orang bisa tinggal di situ. Kalau ada 2 km pesegi dengan bangunan-bangunan tinggi, maka intensitas tinggi orang gak perlu jalan kemana-mana, sehingga cukup jalan kaii menuju stasiun agar tak menambah macet di jalan raya,”‎ kata Budi usai acara seminar tentang TOD di Jakarta, Rabu (23/8).

Ia juga menambahkan selain untuk mempermudah mobilitas masyarakat dengan tinggal tak jauh dari prasarana transportasi umum, pembangunan TOD juga diharapkan bisa membantu pengembang transportasi memperoleh bisnis tambahan agar tak hanya mengandalkan penjualan tiket saja sebagai revenue.

Dan untuk mendukung rencana ini, Budi berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan kelonggaran izin pembangunan gedung-gedung tinggi atau Floor Area Ratio (FAR) di kawasan TOD. Ia juga berpesan kepada para kontraktor dan pengelola nantinya untuk membuka peluang swasta terlibat dalam pengembangan TOD ini. Selain akan lebih maksimal, dengan adanya swasta akan menghemat anggaran pemerintah.

“Saya minta DKI untuk proaktif memberikan bonus atau insentif ke swasta dalam hal FAR, agar masyarakat Jakarta tidak kemana-mana, karena ada hunian, perkantoran dan transportasi di sini,” katanya.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Perkeretaapian (Maska) Hermanto Dwiatmoko menjelaskan TOD ini dalam lima tahun ke depan akan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat di Jabodetabek, untuk dari itu pengembangan ini harus dilakukan secara terencana dengan baik. Salah satu yang diupayakan adalah bekerjasama dengan berbagai negara yang sudah memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan TOD ini. Seperti salah satunya Inggris.

“Ini harus ada percepatan yang dilakukan sehingga seperti Dukuh Atas, Fatmawati bisa difungsikan dengan cara yang baik. Inggris negara yang tau persisi penangan TOD ini di develop dengan bagus,” katanya.

Secara Paralel

Hermanto juga mengatakan bahwa pembangunan TOD dan perwujudan integrasi antarmoda dapat dilaksanakan secara paralel, sehingga tidak ada duluan atau setelahnya. Karena jika direncanakan secara bersamaan akan lebih baik.

“Intergrasi dan TOD kedua sama-sama penting diwujudkan. Bila dilihat dari sisi waktu yang tepat pembuatannya, maka bisa berbarengan karena sama-sama penting. Untuk TOD, pengaturannya tidak mesti harus di area Jakarta untuk huniannya. Bisa saja di simpul awal di Bekasi Timur misalnya untuk LRT,” katanya. (son)