Dua Kampung Bertikai Tanda Tangani Kesepakatan Damai

Mataram, 4/9 (Bisnis Jakarta) – Dua kampung di Kelurahan Pagutan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, yang bertikai pada bulan Juli 2017, sepakat menandatangani surat pernyataan berdamai.

Surat pernyataan kesepakatan berdamai tersebut ditandatangani empat perwakilan tokoh masyarakat dari masing-masing lingkungan yakni Lingkungan Peresak Timur Kelurahan Pagutan dan Lingkungan Asak Kelurahan Pagutan Barat, disaksikan oleh Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, Kapolres Mataram, Kajari, Dandim 1606, serta Danramil, di Mataram, Senin.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan, dengan telah ditandatangani surat pernyataan kesepakatan damai tersebut, maka dua kampung ini sudah dinyatakan berdamai secara permanen.

“Jika salah satu dari kedua belah pihak melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan yang tertuang dalam surat pernyatan itu, maka akan berurusan dengan aparat penegak hukum,” katanya.

Ia mengharapkan kedua belah pihak mematuhi kesepakatan yang telah ditandatangani bersama, karena kesepakatan itu hasil dari keingingan kedua belah pihak melalui persamaan komitmen.

Dengan demikian, masyarakat bisa kembali hidup rukun, damai dan beraktivitas dengan baik serta lancar tanpa ada rasa terancam atau terindimidasi.

“Tidak boleh ada lagi aksi-aksi provokasi yang dapat memicu terjadinya keributan antardua kampung ini,” katanya.

Wakil wali kota mengatakan, lamanya proses penandatanganan surat pernyataan kesepakatan damai antardua kampung yang bertikai pada awal bulan Juli 2017, dan menyatakan berdamai pada tanggal 4 Juli 2017, karena masih mencari titik temu dan negosiasi.

“Kami sifatnya memediasi dan kami bersyukur kedua belah pihak hari ini bisa menandatangai surat pernyataan tersebut,” katanya.

Kesepakatan berdamai ini bukan hanya keinginan pemerintah kota semata, melainkan dorongan kuat dari masyarakat yang ikut resah dengan adanya konflik antarkampung.

Pertikaian dua kampung yakni Lingkungan Peresak Timur dan Lingkungan Asak terjadi karena salah paham terhadap tradisi budaya di dua kampung, dan diawali dari perkelahian anak muda. (Antara)