DENPASAR (Bisnis Jakarta) – Bursa Efek Indonesia mendorong peningkatan kinerja investor ritel karena saat ini nilai transaksinya masih rendah sekitar 30 persen dari nilai perdagangan yang mencapai kisaran Rp7,4 triliun per hari. “Kami tidak menargetkan spesifik tetapi kami masih optimistis, kami ingin transaksi investor ritel berkontribusi lebih dari 50 persen,” kata Kepala Pengembangan dan Penelitian BEI Verdi Ikhwan ketika mengadakan sosialisasi 10 emiten di Universitas Udayana Denpasar, Kamis.

Menurut Verdi, investor ritel merupakan pasar yang potensial karena memegang peranan penting dalam mendongkrak nilai transaksi. Thailand misalnya, lanjut dia, nilai transaksi investor negara gajah putih itu bahkan mencapai 60 persen dari nilai transaksi yang mencapai sekitar 18 triliun per hari.

Hal tersebut menjadikan Thailand bertengger di posisi pertama negara ASEAN dengan nilai transaksi saham tertinggi disusul Singapura dan Indonesia. Ia optimis  jumlah investor dan nilai transaksi ritel di Indonesia dapat ditingkatkan karena sejumlah indikator seperti pertumbuhan penduduk dan kondisi ekonomi yang baik.

Selama tahun ini, ucap dia, indeks harga saham di Indonesia juga mencapai rekor yang mencapai 5.900 dengan nilai transaksi juga melonjak pesat rata-rata 300 ribu kali per hari. Selain itu jumlah investor juga naik 30 persen dalam dua tahun terakhir yang mencapai sekitar 600 ribu dengan bertransaksi aktif per hari mencapai hingga 40 ribu.

Jumlah perusahaan yang melantai di bursa saham juga diharapkan bertambah dengan sosialisasi menyasar perusahaan termasuk perusahaan daerah mengingat saat ini jumlah emiten di Indonesia mencapai 555 emiten.

Untuk itu agar dapat menyalip nilai transaksi saham Thailand dan Singapura itu, pihaknya menghadirkan emiten atau perusahaan yang melantai di bursa saham kepada masyarakat yang diharapkan bisa mengedukasi calon investor.

Sebagai langkah awal, pihaknya memboyong 10 perusahaan yang sudah “go public” untuk sosialisasi kepada mahasiswa Universitas Udayana. “Dengan sosialisasi sejak dini mungkin saat mereka sudah bekerja, bisa aktif berinvestasi termasuk dengan investor lain juga,” imbuhnya.

Selain itu infrastruktur sistem perdagangan, kata dia, juga ditingkatkan kapasitasnya termasuk membenahi akses dan kecepatan perdagangan dalam jaringan seperti yang dilakukan Thailand. “Dari mikro pasar modal kami melakukan perubahan peraturan agar mendukung pertumbuhan investor,” katanya. (grd/ant)