TANGSEL (Bisnis Jakarta) – Jumlah warga miskin di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dinilai terus fluktuatif. Jumlah warga miskin ini diklaim angkanya merosot hingga 0,8 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Orang miskin bisa hilang bisa muncul. Contohnya pada waktu belum ada penggusuran dia miskin, lalu pas ada pembebasan tanah dia jadi kaya. Ada juga yang mampu tapi tiba-tiba kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),” ungkap Kepala Dinas Sosial Kota Tangsel, M Salman Faris.

Lebih lanjut Salman mengatakan, hasil validasi dari Kementerian Sosial tahun lalu, jumlah warga miskin di Kota Tangsel sebanyak 15.009 orang. Tahun ini jumlahnya berkurang menjadi sekitar kurang lebih 14.000. Namun sisa jumlah tersebut masih tetap ditelusuri dan diverifikasi. Apakah kondisi sosialnya sudah benar-benar meningkat atau karena faktor lain. “Kemarin baru saja keluar data CD 2 (tahap 2) dari Kementerian Sosial. Jumlahnya memang sama. Tapi waktu ada penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH)), ada warga yang tahap sebelumnya dapat, tapi tahap selanjutnya tidak. Ini yang sedang kita sisir,” imbuhnya.

Kondisi ini juga terjadi saat penyaluran BPNT dan PKH di Kota Tangsel beberapa waktu lalu. Sebagian warga mengeluhkan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang telah diterima dari Kementerian Sosial (Kemensos) saldonya kosong saat hendak menukar dengan paket sembako. “Namanya orang sudah pernah dapat dan sekarang tidak dapat pasti kecewa. Ada lagi laporan yang layak benar dapat tapi tidak menerima kartu (warga penerima bantuan). Hal ini yang akan diverifikasi oleh Kemensos bulan November,” pungkasnya. (nov)