Kiai Nasihin jadi Guru Mursyid Sejak Usia 15 Tahun

PATI (Bisnis Jakarta) – Pengasuh Pondok Pesantren Thoriqoh Tijaniyah, Dukuh Slempung, Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, KH Ahmad Khoirun Nasihin (AKN) Marzuqi lahir di Pati pada 1969 dari pasangan KH Marzuqi dan Hj Nyai Sukesi.
Kiai Nasihin merupakan putra kedua dari empat bersaudara. Dia dibesarkan oleh kedua orangtua yang sama-sama guru mursyid tarekat Syattariyah.
Ayah Kiai Nasihin, KH Marzuqi memiliki lima istri. Dari istri kelima, Hj Nyai Sukesi, Kiai Nasihin diajarkan tarekat sejak muda sehingga memiliki banyak keajaiban di usianya yang masih belia.

Kiai Nasihin muda belajar di Madrasah Darunnajah Ngemplak, dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Tsanawiyah (MTs), hingga Aliyah (MA). Meski mendapatkan ilmu tarekat, tapi Kiai Nasihin muda tetap belajar syariat dengan tekun.

Di usianya masih remaja, ia sudah menjadi guru mursyid. Hal itu diakui KH Ahmad Thoha Ismail, pengasuh Ponpes Nurul Furqon, Ngemplak, Pati.

“Sejak usia sekitar 15 tahun, Kiai Nasihin sudah menjadi guru mursyid. Tidak sekadar punya murid, tapi mahaguru, di atas kiai. Beliau memang pernah menjadi murid saya di bangku sekolah formal, tapi untuk ilmu sirri, beliau adalah guru saya,” ujar KH Thoha.

Hal itu dianggap wajar karena Kiai Nasihin memiliki banyak guru tarekat sejak usia belasan. Beberapa gurunya, antara lain KH Abdullah Salam Kajen yang mengajarkan tarekat Naqsyabandiyah, kedua ayah dan ibunya yang mengajarkan tarekat Syattariyah.

Kiai Nasihin juga pernah berguru di bidang tarekat kepada KH Maksum Kajen, KH Khamid Pasuruan, KH Fadhol bin Abdissyakur Tuban, dan KH Abdul Manan Manyaran Semarang. Tarekat Syadziliyah dan Tijaniyah juga beliau pelajari dengan intens.

Di bidang syariat, ia belajar tafsir kepada KH Kiduri Nawawi Kajen, tahrib kepada KH Nur Hadi, Al Quran kepada KH Sahli Sekar Jalak, dan beberapa kiai sepuh lainnya. (grd)