BANDUNG (Bisnis Jakarta) – Bank Indonesia (BI) menilai saat ini investor asing masih positif melihat prospek ekonomi Indonesia ke depan kendati dalam dua tahun terakhir ekonomi domestik sendiri masih tumbuh pada kisaran 5 persen. Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan pada triwulan III-2017 investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang masuk ke Indonesia cukup besar, terutama yang terkait dengan perdagangan elektronik (e-commerce).

“Memang besar sekali masuk FDI yang terkait dengan digital economy. Jadi ini positif ke kita. Namun yang penting sebenarnya adalah asing masih melihat prospek ekonomi kita, pasar kita besar sekali,” ujar Dody saat memberikan penjelasan terkait Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah dan Bank Indonesia (Rakorpusda) di Bandung, Selasa.

Pada pertengahan Agustus 2017 lalu, perusahaan ‘e-commerce’ Tokopedia mendapatkan suntikan dana investasi senilai 1,1 miliar dolar AS atau setara dengan Rp14 triliun dari Alibaba Group. Menurut Dody apabila stabilitas baik dari sisi makro, nilai tukar, serta inflasi juga dapat terjaga dengan baik ke depan, maka investasi baik asing maupun domestik diyakini akan terus mengalir dan menggerakkan roda ekonomi lebih kencang.

BI mencatat aliran dana asing yang masuk ke Indonesia sepanjang Januari hingga September 2017 mencapai 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp146,3 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp151 triliun. “Mudah-mudahan dengan kemarin kita menurunkan suku bunga dampaknya juga akan berlanjut ke depannya,” ujar Dody.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-22 September 2017 lalu memang memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps dari 4,5 persen menjadi 4,25 persen, setelah pada bulan lalu juga menurunkan suku bunga acuan 25 bps.

Penurunan suku bunga acuan tersebut diikuti dengan penurunan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 3,5 persen dan Lending Facility turun 25 bps menjadi 5 persen berlaku efektif sejak 25 September 2017. Bank sentral berharap penurunan suku bunga acuan dapat mendukung perbaikan intermediasi perbankan dan pemulihan ekonomi domestik yang sedang berlangsung. (grd/ant)