MUARA TEWEH – Harga karet di pedalaman Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, pada akhir September 2017 anjlok secara bervariasi dari Rp7.500 sampai Rp7.000 per kilogram menjadi Rp6.500-Rp5.500. “Turun harga karet membuat petani di daerah ini kembali terpukul, sebelumnya dalam bulan September ini mengalami kenaikan dua kali,” kata Nordiani, seorang petani karet, di Dusun Bayas, Kecamatan Teweh Tengah, Selasa (26/9)

Ia mengatakan posisi harga karet di tempatnya dari Rp7 ribu per kilogram turun menjadi Rp5.500/kg. Pedalaman Sungai Barito merupakan satu sentra kebun karet di Provinsi Kalimantan Tengah. “Untuk sementara kami tidak menjual karet karena harga anjlok, sambil menunggu harga membaik,” katanya.

Irwansyah, petani karet di Kelurahan Jambu, Kecamatan Teweh Baru, mengatakan harga karet di kelurahannya turun dari Rp7.500 menjadi Rp6.500/kg. Produksi kebun karet rakyat dominan ditampung kalangan pedagang yang mendatangi kebun petani atau lebih dikenal dengan sebutan tengkulak. “Bervariasinya harga ini juga bisa karena ulah tengkulak yang memang menguasai petani,” katanya.

Ia mengatakan para tengkulak mengaku patokan harga beli disesuaikan dengan posisi harga jualnya di kalangan pedagang atau pabrik di Banjarmasin, pusat pemerintahan Kalimantan Selatan. “Masalahnya para petani daerah ini masih tergantung pada para tengkulak karena sampai sekarang belum ada pabrik karet, padahal hasil produksi karet petani cukup banyak,” katanya.

Kabupaten Barito Utara memiliki luas areal tanam komoditas karet mencapai 90,62 persen dari total luas areal tanaman perkebunan swasta dan rakyat yang mencapai 51.784 hektare. Jumlah produksi secara tonase mencapai 66,03 persen dari total produksi mencapai 20.312 ton per tahun.

Luas kebun karet rakyat di kabupaten yang juga dikenal kaya potensi sumber daya alam batu bara itu, tercatat 46.962 hektare dengan produksi karet kering mencapai 18.696 ton per tahun. Kebun karet rakyat itu tersebar di sembilan kecamatan di kabupaten tersebut. (son/ant)