Perbankan Diingatkan Tingkatkan KUR ke Sektor Produksi

PALU (Bisnis Jakarta) – Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution memperingatkan kalangan perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) ke sektor produksi dan mengendorkan kredit untuk sektor perdagangan.

“Setelah kami evaluasi penyaluran KUR tahun 2016, ternyata 77 persen disalurkan kepada pedagang dan 23 persen ke sektor produksi. Ini betul-betul tidak sesuai rancangannya,” kata menteri dalam sambutannya sebelum meresmikan pengoperasian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, Rabu.

Menurut mantan Gubernur Bank Indonesia itu, tahun 2016 pemerintah menyalurkan KUR sekitar Rp95 triliun dan 2017 ini akan dinaikkan menjadi Rp110 triliun. Dari jumlah itu, kata Darmin, penyaluran ke sektor produksi, terutama komoditas pangan, harus mencapai 40 persen dan selebihnya ke sektor perdagangan.

Hingga September 2017, realisasi KUR ke sektor produksi sudah mencapai 36 persen, dan akhir tahun harus mencapai 40 persen. “Kepada para pemimpin bank yang hadir di sini dan bertugas menyalurkan KUR, saya sampaikan bahwa tahun depan KUR ke sektor produksi harus capai 50 persen. Kalau tidak, awas. Ya gitu aja ngomongnya,” ujarnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Ia minta kepada bank-bank penyalur KUR agar memperioritaskan pengembangan produksi komoditi strategis di Sulteng seperti padi, jagung, kedele, rumput laut dan rotan. Komoditi-komoditi strategis ini perlu dikelola secara klaster sehingga mudah mendata petaninya untuk ditopang dengan KUR, ujarnya.

Selain itu, tambah menteri, mulai 2018, bunga KUR direncanakan akan diturunkan dari 9 persen saat ini menjadi tujuh persen. “Ini (penurunan bunga KUR) memang ditentang oleh Bank-bank Perkreditan Rakyat, namun dengan meningkatnya pembiayaan KUR ke sektor produksi, maka BPR diharapkan melayani sektor perdagangan yang sebelumnya berharap pada KUR,” ujarnya.

Terkait peresmian KEK, Menteri Darmin Nasution mengatakan bahwa KEK merupakan salah satu instrumen yang dipakai pemerintah saat ini untuk memeratakan pembangunan ke seluruh daerah.

Lewat KEK, katanya, investasi diharapkan akan berkembang pesat di daerah-daerah sehingga ekonomi bertumbuh lebih tinggi, pemerataan pendapatan lebih baik dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan akan lebih cepat. “Kalau selama ini orientasi pembangunan terlalu fokus ke Jawa, maka selama pemerintahan Jokowi, orientasi itu diubah dengan fokus ke seluruh Indonesia yang dimulai dari pinggiran,” ujarnya.

Karena itu, dari 245 proyek strategis yang dirancang Pemerintahan Joko Widodo, termasuk pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt, itu terlihat menyebar sangat baik mulai dari ujung Sumatera sampai ke Papua. (grd/ant)