Kemacetan di Indonesia Timbulkan Kerugian 1 Miliar Euro

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Komisioner Transportasi Uni Eropa Violeta Bulc mengatakan, kemacetan yang terjadi di Indonesia terutama di Jakarta menimbulkan kerugian yang cukup besar. Bahkan diperkirakan kerugian ekonomi karena energy yang berbakar akibat kemacetan mencapai 1 miliar Euro per tahun. “Akibat kemacetan yang terjadi di Indonesia, kerugian energy yang terbakar diperkirakan mencapai  1 miliar Euro setiap tahun,” kata Violeta usai diskusi masalah transportasi di Jakarta, Jumat (29/9) kemarin.

Delegasi Uni Eropa mengunjungi Jakarta diantaranya menggelar diskusi masalah transportasi yang terintegrasi. Hadir dalam diskusi antara lain Mari Pangestu, Noni Purnomo (Presdir Blue Bird), Eka Sari Soerbakti (Presdir Lorena), Liana Trisnawati (Presdir Terminal Borneo), Irma Djohan (CFO Bali Int’l Flight Academy).

Untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di Indonesia ini, menurut Violeta, diperlukan kolaborasi pemerintah Indonesia dengan Negara lain yang ada di Asia dan Eropa terutama dalam  perbaikan infstrastruktur dan efisiensi. “Kolaborasi ini sangat  penting untuk dilakukan dalam rangka peningkatan efisiensi dan pembangunan infrastruktur yang nantinya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Dijelaskannya, masalah transportasi sangat menantang, karena terdapat permasalahan di sana, seperti trasportasi yang menyumbang karbon terbesar serta masalah infstratruktur serta keamanan dan keselamatan. Untuk itu diperlukan inovasi agar bisa menjadi solusi dari semua masalah tersebut. “Transpotasi juga jadi penyumbang karbon terbesar, maka harus dipikirkan inovasi baru bagaimana transportasi yang banyak karbonnya diubah menjadi  dekarbonisasi sehingga tetap mendorong pertumbuhan kargo,” jelasnya.

Ia menilai, urbanisasi juga memerlukan perhatian. Banyaknya urbanisasi akan membuat kota berat. Untuk itu harus disiapkan transportasi perkotaan yang pintar, juga desain kota, multimoda ditingkatkan. “Indonesia akan memiliki MRT, ini akan menjadi lompatan bagi Indonesia,” tegasnya.

Sebelumnya waktu pertemuan di Bali beberapa waktu yang lalu disepakati untuk meningkatkan keselamatan di jalan raya  antara ASEAN dan UE. Pasalnya dalam  keselamatan di jalan raya atau “Road safety”, kesadaran untuk menurunkan fatalitas dalam kecelakaan lalu lintas jalan. Memang sudah ada upaya untuk perbaikan, tetapi tetap harus terus meningkatkan silent killer ini. “Demografi Indonesia sangat luas, menjadi potensi yang besar. Oleh karena itu keselamatan jalan raya harus dijaga. Di Uni Eropa juga ada masalah juga soal keselamatan jalan raya,” ungkapnya.

Untuk diketahui, ada 20 poin yang menjadi kesepakatan yang tertuang dalam Deklarasi Bali antara lain menegaskan peran penting ASEM TMM dan pentingnya menindaklanjuti komitmen yang dibuat untuk kemitraan yang lebih kuat di semua bidang transportasi.

Melanjutkan pekerjaan untuk memperkuat kerja sama antara semua pemangku kepentingan untuk mengembangkan dan memperbaiki sistem transportasi terpadu untuk menjembatani Asia dan Eropa guna memfasilitasi mobilitas orang, barang, layanan dan investasi melalui platform bilateral dan multilateral. (son)