DISELIMUTI AWAN - Pemandangan Puncak Gunung Agung diselimuti awan putih pada 26 September lalu.

DENPASAR (Bisnis Jakarta) – Setelah sebelas hari ditetapkannya Level IV (Awas), belum ada tanda-tanda Gunung Agung akan terjadi erupsi. Bahkan belakangan aktivitas gempa vulkanik yang terjadi mulai menurun dibandingkan saat awal-awal ditetapkannya status Awas. Namun ada hal menarik jika Gunung tertinggi di Pulau Dewata ini mengalami erupsi. Ketua Umum Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Indonesia, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menilai, erupsi Gunung Agung tak tepat jika disebut sebagai bencana.

Alasannya, Sukahet menyebutkan, selama 1.300 tahun gunung terbesar di Bali ini aktif, keberadaannya membawa berkah dan keberlimpahan bagi Pulau Bali. Ia mengajak masyarakat agar jangan menganggap peningkatan aktivitas Gunung Agung itu sebagai bencana, tapi justru sebaliknya adalah berkah.

“Saya mengajak para pegiat pariwisata untuk mengkampanyekan bahwa aktivitas Gunung Agung itu justru menarik sebagai atraksi jika memang erupsi. Sampaikan kepada turis di seluruh dunia bahwa Gunung Agung bisa menjadi sangat indah, so beautiful. Jika pun memang erupsi, toh penerbangan tetap aman. Pemberitaan yang menyudutkan Bali soal Gunung Agung harus cepat-cepat dicounter dengan diplomasi terbalik, bahwa Gunung Agung tetap indah dan menarik sehingga turis tetap mau datang,” ajaknya.

Contohnya pada erupsi 1963, meskipun ada banyak korban jiwa, setelah peristiwa itu Bali memiliki tanah yang sangat subur dan pasir melimpah. “Saya tidak berani menyebut sebagai bencana terkait peningkatan aktivitas Gunung Agung, karena itu adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Jika kita mengikuti sejarah sejak 1.300 tahun, setiap Gunung Agung meletus itu adalah berkah,” katanya, Minggu (1/10).

Sejak 1.300 tahun, Pura Besakih tetap utuh meskipun Gunung Agung sudah beberapa kali erupsi. Oleh karena itu, pihaknya yakin bahwa Pura Besakih akan tetap aman, apa pun yang terjadi dengan Gunung Agung.

Hal senada juga diungkap Ketua PHRI Bali, Dr. Ir. Tjokorda Artha Ardana Sukawati (Cok Ace). Ia menilai, apa yang terjadi saat ini harus selalu dimaknai dengan hal positif dan menjadikan Gunung Agung sebagai atraksi pariwisata. Cok Ace juga mengajak umat Hindu di Bali agar merenungi apa yang terjadi di Bali saat ini.

Sebab, kata dia, kondisi alam ini merupakan suatu peringatan bahwa masyarakat Bali harus tetap menjaga Ibu Pertiwi dan berhenti “memperkosa” karena nafsu serakah. “Soal aktivitas Gunung Agung, serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kita tidak bisa melawan kehendak alam. Apa pun yang akan terjadi itu adalah kehendak alam. Kita harus terima dengan lapang dada,” tegas Cok Ace.

Sementara itu, Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Dr. Ir. Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc., menyarankan agar ada video singkat testimoni tentang Gunung Agung dari para sesepuh dan tetua yang menyaksikan langsung peristiwa itu. Video itu kemudian dishare secara luas di media sosial.

Menurut Agung Suryawan, ini penting untuk meng-counter pemberitaan yang sangat berlebihan tentang Gunung Agung yang merugikan pariwisata Bali. (kmb)