Pelemahan Mata Uang Terjadi secara Global

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Bank Indonesia menyatakan pelemahan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS terjadi secara global bukan hanya pada rupiah, karena reaksi pelaku pasar terhadap rencana penurunan pajak di Amerika Serikat, dan juga sinyaleemen kebijakan pengetatan moneter Bank Sentral AS ahir tahun 2017 dan 2018.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara usai Rakernas Kadin di Jakarta, Selasa, mengatakan per hari Selasa(3/10) kurs rupiah melemah 0,27 persen terhadap dolar AS, atau masih lebih baik dibanding kurs Rupee India yang melemah 0,4 persen, Yen Jepang 0,33 persen dan Dolar Singapura yang melemah 0,32 persen. Nilai tukar rupiah per hari Selasa hanya lebih buruk dibanding Renmimbi China yang melemah 0,24 persen. “Itu artinya apa ? artinya terjadi (pelemahan) secara global,,” kilahnya.

Menurut Mirza, pelemahan nilai tukar ini sudah banyak diperkirakan. Penyebabnya adalah, pertama, rencana Presiden AS Donald Trump yang akan menurunkan besaran pajak di Negeri Paman Sam. Kebijakan itu, jika disetujui Senat dan Kongres AS diyakini akan memompa pertumbuhan ekonomi AS lebih cepat, sehingga investor-investor terpancing untuk mengalihkan dananya ke AS.

“Dengan pemulihan ekonomi itu ada kemungkinan suku bunga di AS akan naik lebih cepat dan kemudian, di global itu, dolar jadi menarik kembali,” ujarnya.

Penyebab kedua adalah pernyataan Gubernur Bank Sentral AS atau The Fed Jannet Yellen pekan lalu yang bernada “hawkish” dan dikaitkan pelaku pasar dengan potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada Desember 2017 mendatang.

Sedangkan penyebab ketiga adalah spekulasi pelaku pasar tentang suksesi kepemimpinan Gubernur The Fed pada 2018. Terdapat spekulasi yang beradar di kalangan pelaku pasar bahwa salah satu kandidat pengganti Jannet Yellen adalah ahli ekonomi yang condong pada kebijakan moneter ketat, yakni Kevin Warsh. “Itu selalu jadi topik di pasar keuangan,” ujar dia.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi, bergerak melemah sebesar 30 poin menjadi Rp13.570 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.540 per dolar Amerika Serikat (AS). Kurs Refrensi Jakarta Interbank Spot Dolar AS BI pada Selasa pagi ini juga dibuka melemah di Rp13.582 per dolar AS. Selasa siang, di pasar spor rupiah berada di Rp13.540 per dolar AS.

Analis Monex Investindo Futures, Putu Agus mengatakan bahwa tingginya probabilitas kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Fed Fund Rate) kembali mendorong dolar AS mengalami penguatan terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.

“Outlook kenaikan suku bunga AS itu membuat peralihan minat investor ke aset mata uang berkategori safe haven, seperti dolar AS,” kata Putu Agus. (grd/ant)